Teheran, Iran – Kementerian Luar Negeri Iran melancarkan bantahan keras terhadap tudingan Amerika Serikat mengenai program rudalnya, melabelinya sebagai "dusta besar". Klaim ini muncul menyusul pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menuduh Iran tengah mengembangkan rudal dengan jangkauan hingga wilayah Amerika Serikat. Internationalmedia.co.id – News mengabarkan.
Melalui platform media sosial X, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, secara eksplisit menyatakan bahwa segala tuduhan terkait program nuklir dan rudal balistik Iran, termasuk angka korban jiwa dalam kerusuhan Januari lalu, merupakan "pengulangan dusta besar". Meskipun Baqaei tidak menyebutkan secara spesifik klaim yang ia tanggapi, pernyataannya datang hanya beberapa jam setelah Presiden Trump melontarkan tudingan bahwa Iran sedang merancang rudal yang berpotensi menjangkau daratan Amerika.

Sebelumnya, dalam sebuah wawancara dengan Al Jazeera bulan ini, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, telah menegaskan bahwa Teheran tidak memiliki kapabilitas untuk menargetkan Amerika Serikat secara langsung. Namun, ia memperingatkan bahwa pangkalan-pangkalan militer Amerika di Timur Tengah akan menjadi sasaran empuk jika Washington melancarkan serangan.
Dalam kesempatan lain, saat menyampaikan pidato kenegaraannya pada Selasa (24/2) waktu setempat, Presiden Trump juga kembali menegaskan bahwa Iran tidak akan pernah diizinkan untuk memproduksi senjata nuklir. Ia menuduh para pemimpin Teheran "saat ini kembali mengejar ambisi nuklir mereka yang jahat". Menanggapi hal ini, pemerintah Iran telah berulang kali membantah keras tudingan sedang berupaya mengembangkan senjata nuklir, namun mereka tetap bersikeras pada haknya untuk memanfaatkan teknologi nuklir untuk tujuan damai.
Tak hanya itu, Trump juga sempat melontarkan klaim kontroversial bahwa otoritas Iran telah menewaskan 32.000 orang selama gelombang aksi protes yang dimulai pada Desember tahun lalu dan mencapai puncaknya pada 8 dan 9 Januari. Sementara itu, pejabat Iran mengakui adanya lebih dari 3.000 kematian, namun mereka bersikeras bahwa kekerasan tersebut merupakan akibat dari "tindakan teroris" yang dipicu oleh Amerika Serikat dan Israel.

