Internationalmedia.co.id memberitakan wafatnya Paus Fransiskus pada usia 88 tahun telah meninggalkan pertanyaan besar: siapa yang akan memimpin Gereja Katolik selanjutnya? Pemakaman Paus Fransiskus akan digelar Sabtu, 26 April 2025 di Basilika Santo Petrus, Vatikan, dihadiri pemimpin dunia dan jutaan umat Katolik. Proses pemilihan penerusnya, penuh misteri dan ritual, segera dimulai.
Proses pemilihan Paus, yang dikenal sebagai konklaf, melibatkan para kardinal di bawah usia 80 tahun dari seluruh dunia. Mereka berkumpul di sebuah kapel di Vatikan, terisolasi dari dunia luar, untuk memilih pemimpin baru. Proses ini sangat rahasia; telepon, internet, dan bahkan koran dihilangkan untuk memastikan kerahasiaan mutlak. Tiga kardinal termuda akan membantu kelancaran prosesi konklaf.

Setiap kardinal menulis nama pilihannya pada kertas suara berkalimat Latin, "Eligo in Sumum Pontificem Meum" (Saya memilih Pemimpin Tertinggiku). Pemilihan dilakukan berulang hingga seorang kandidat meraih suara mayoritas dua pertiga. Jika melewati putaran ke-30 tanpa hasil, dua kandidat dengan suara terbanyak akan dipilih, dan mereka kehilangan hak pilih.
Hasil pemungutan suara ditunjukkan melalui asap dari cerobong kapel. Asap hitam menandakan belum terpilihnya Paus, sedangkan asap putih disertai bunyi lonceng gereja menandakan Paus baru telah terpilih. Pengumuman resmi dilakukan dari Balkon Santo Paulus dengan kalimat, "Annuntio vobis gaudium magnum. Habemus Papam!" (Saya mengumumkan kepada Anda sebuah kegembiraan besar. Kita mempunyai seorang Paus!).
Beberapa kandidat potensial telah muncul dari berbagai belahan dunia. Di antaranya: Kardinal Luis Antonio Tagle (Filipina), Kardinal Pietro Parolin (Italia), Kardinal Peter Turkson (Ghana), Kardinal Marc Ouellet (Kanada), Kardinal Fridolin Ambongo Besungu (Kongo), Kardinal Matteo Zuppi (Italia), Kardinal Jean-Marc Aveline (Prancis), Kardinal Peter Erdo (Hungaria), Kardinal Mario Grech (Malta), Kardinal Juan Jose Omella (Spanyol), Kardinal Joseph Tobin (AS), dan Kardinal Angelo Scola (Italia). Masing-masing memiliki kekuatan dan kelemahan, serta dukungan dari berbagai faksi dalam Gereja Katolik. Namun, usia dan pengaruh mereka di dalam Vatikan menjadi pertimbangan penting.
Perlu diingat, pepatah lama "Kardinal muda memilih paus tua" seringkali mencerminkan dinamika pemilihan ini. Konklaf ini akan menentukan arah Gereja Katolik di masa depan. Dunia menunggu dengan penuh harap.
