Serangan udara besar-besaran Rusia ke Ukraina membuat Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, geram. Internationalmedia.co.id melaporkan, Trump mengancam akan menjatuhkan sanksi lebih banyak lagi terhadap Moskow sebagai respons atas serangan tersebut. Serangan yang terjadi Minggu dini hari (7/9) menewaskan sedikitnya empat orang dan merusak sejumlah bangunan pemerintahan di Kyiv, termasuk kompleks yang menampung kabinet menteri Ukraina.
"Saya tidak senang dengan seluruh situasi ini," kata Trump kepada wartawan, Senin (8/9), seperti dikutip internationalmedia.co.id. Ia menegaskan kesiapannya untuk memberikan sanksi tambahan kepada Rusia. Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, pun mendesak AS untuk memberikan respons yang keras atas serangan tersebut. "Kami mengharapkan respons yang kuat dari Amerika. Itulah yang dibutuhkan," tegas Zelensky dalam pidatonya.

Zelensky menyebut serangan Rusia sebagai upaya Putin untuk "menguji dunia". Serangan ini terjadi setelah pertemuan Trump dan Presiden Vladimir Putin di Alaska pada 15 Agustus lalu gagal menghasilkan kesepakatan gencatan senjata. Sejak pertemuan tersebut, serangan Rusia terhadap Ukraina justru semakin intensif.
Data dari Angkatan Udara Ukraina menunjukkan Rusia meluncurkan sedikitnya 810 drone dan 13 rudal ke wilayah Ukraina antara Sabtu tengah malam hingga Minggu dini hari. Rusia sendiri membantah menargetkan warga sipil, mengklaim menyerang pabrik dan pusat logistik di Kyiv. Namun, video yang diunggah Perdana Menteri Ukraina, Yulia Svyrydenko, menunjukkan kerusakan parah pada gedung pemerintahan. "Kami akan memulihkan gedung-gedung tersebut. Tetapi kami tidak bisa mengembalikan nyawa yang hilang," ujarnya.

