Gelombang serangan besar-besaran yang dilancarkan Rusia terhadap Ukraina baru-baru ini telah menyebabkan kerusakan parah, khususnya di ibu kota Kyiv dan wilayah sekitarnya. Insiden mengejutkan juga menimpa gedung Kedutaan Besar Qatar yang turut rusak akibat hantaman drone Rusia. Internationalmedia.co.id – News melaporkan, eskalasi ini terjadi setelah Moskow secara tegas menolak usulan perdamaian dari negara-negara Barat, menandai babak baru dalam konflik yang telah berlangsung hampir empat tahun.
Kyiv menjadi titik terparah dalam rentetan agresi terbaru ini, mencatat empat korban jiwa dan sedikitnya 25 orang luka-luka. Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengonfirmasi tingkat kerusakan, menyatakan bahwa "dua puluh bangunan perumahan rusak." Ia juga secara spesifik menyebutkan bahwa "gedung Kedutaan Qatar rusak tadi malam akibat drone Rusia," sebuah pernyataan yang menyoroti dampak tak terduga dari serangan tersebut.

Zelensky menyayangkan insiden ini mengingat peran penting Qatar. "Qatar, sebuah negara yang begitu banyak melakukan mediasi dengan Rusia untuk mengamankan pembebasan tawanan perang dan warga sipil yang ditahan di penjara-penjara Rusia," ungkap Zelensky, seperti dikutip dari laporan AFP. Ia merinci, Rusia melancarkan serangan masif menggunakan 13 rudal balistik, termasuk jenis Oreshnik, 22 rudal jelajah, serta mengerahkan 242 drone dalam operasi tersebut.
Menurut informasi dari para blogger militer Rusia, rudal Oreshnik diduga menargetkan depot gas utama di wilayah Lviv, Ukraina barat. Sementara itu, Zelensky juga mengungkapkan bahwa seorang petugas ambulans turut menjadi korban tewas di Kyiv, menambah daftar pilu korban sipil dalam agresi ini.
Menteri Dalam Negeri Ukraina, Igor Klymenko, menyoroti taktik kejam Rusia. Ia menyatakan bahwa pasukan Moskow "berulang kali menyerang gedung-gedung tinggi pada saat petugas penyelamat dan medis sedang bekerja di lokasi," sebuah tindakan yang ia sebut sebagai "serangan yang disengaja terhadap layanan darurat," menunjukkan niat untuk memaksimalkan korban dan kekacauan.
Klymenko menambahkan, ibu kota dan wilayah sekitarnya adalah area yang "paling menderita," dengan tambahan 20 bangunan non-perumahan di Kyiv juga mengalami kerusakan. "Hampir semua distrik di wilayah Kyiv berada di bawah serangan musuh," tegas Klymenko, menggambarkan skala serangan yang meluas.
Serangan mematikan ini semakin memperburuk krisis kemanusiaan, terjadi di tengah suhu ekstrem yang anjlok hingga di bawah -10 derajat Celcius. Akibatnya, puluhan ribu warga terpaksa hidup tanpa listrik. Klymenko mengecam keras tindakan tersebut, menyebutnya sebagai "tujuan musuh yang tidak manusiawi adalah untuk membuat jutaan orang tanpa penerangan, pemanas, dan air di tengah musim dingin yang membekukan," sebuah strategi yang jelas-jelas menargetkan warga sipil.
