Internationalmedia.co.id melaporkan, dunia tengah menyaksikan dengan nafas tertahan reaksi Iran pasca serangan terhadap tiga fasilitas nuklirnya. Wakil Presiden AS, JD Vance, menyatakan Amerika Serikat sedang memantau ketat langkah selanjutnya yang akan diambil Teheran. Apakah Iran akan membalas serangan tersebut atau justru melanjutkan program nuklirnya? Jawabannya, menurut Vance, akan terlihat dalam 24 jam ke depan.
Situasi ini disebut Vance sebagai "momen yang sangat sulit". Pihak AS, lanjutnya, telah menerima beberapa pesan tidak langsung dari Iran melalui berbagai saluran, seperti yang diungkapkan Menteri Pertahanan Pete Hegseth sebelumnya. Namun, isi pesan tersebut masih dirahasiakan. Vance juga memperingatkan bahwa jika Iran mengganggu pengiriman di Selat Hormuz, hal itu akan berdampak fatal bagi ekonomi Iran sendiri. Ia menegaskan kembali bahwa AS tidak berencana mengerahkan pasukan darat dan tidak akan meningkatkan keterlibatan militernya.

Lebih lanjut, Vance mengungkapkan bahwa keputusan untuk menyerang fasilitas nuklir Iran diambil Presiden Donald Trump beberapa menit sebelum serangan dilakukan. Trump, kata Vance, memiliki kesempatan untuk membatalkan serangan hingga menit terakhir, namun tetap memutuskan untuk melanjutkannya. Keputusan ini tentu saja menimbulkan pertanyaan besar tentang implikasi jangka panjang dari serangan tersebut dan bagaimana hal itu akan membentuk dinamika geopolitik di kawasan Timur Tengah. Dunia kini menunggu dengan cemas.
