Amerika Serikat (AS) melancarkan serangan udara ke sejumlah fasilitas nuklir Iran. Internationalmedia.co.id melaporkan, tindakan ini menuai kecaman keras dari berbagai negara dan organisasi internasional. Presiden AS Donald Trump, dalam pidato singkatnya, bahkan mengancam akan melakukan serangan lebih lanjut jika Iran tidak mau berdamai. Pernyataan Trump tersebut semakin memanaskan situasi yang sudah tegang.
Iran sendiri langsung mengecam keras serangan tersebut. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyebut serangan AS sebagai agresi militer brutal dan pelanggaran serius hukum internasional. Araghchi menegaskan bahwa AS akan bertanggung jawab atas konsekuensi dari tindakannya.

Kecaman juga datang dari Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres. Guterres menyatakan keprihatinannya yang mendalam atas eskalasi konflik dan menyerukan semua pihak untuk menahan diri serta mengedepankan diplomasi. Ia memperingatkan bahaya konflik yang tak terkendali dan dampaknya bagi warga sipil serta dunia internasional.
Beberapa negara Amerika Latin turut mengecam serangan AS. Presiden Kuba, Miguel Díaz-Canel, menyebut serangan tersebut sebagai eskalasi berbahaya yang melanggar Piagam PBB. Presiden Chili, Gabriel Boric, dan Kementerian Luar Negeri Venezuela juga menyampaikan kecaman serupa. Kolombia dan Meksiko mendesak semua pihak untuk kembali ke meja perundingan.
Arab Saudi, meski pernah menjadi musuh bebuyutan Iran, juga menyatakan keprihatinan mendalam atas serangan tersebut. Mereka menyerukan semua pihak untuk menahan diri dan mencegah eskalasi lebih lanjut, menekankan pentingnya solusi politik. Kekhawatiran serupa juga diungkapkan Qatar, yang menjadi tuan rumah pangkalan militer AS terbesar di Timur Tengah. Mereka khawatir akan dampak bencana bagi kawasan dan dunia.
Bahkan kelompok Palestina Hamas turut mengecam serangan AS, menyebutnya sebagai pelanggaran hukum internasional dan ancaman terhadap perdamaian dunia. Hamas berjanji akan meminta pertanggungjawaban AS dan Israel atas tindakan ini. Serangan AS ke Iran ini jelas telah memicu reaksi global yang meluas dan meningkatkan kekhawatiran akan potensi konflik yang lebih besar.
