Internationalmedia.co.id – News – Presiden Korea Selatan, Lee Jae Myung, mengungkapkan bahwa negaranya tidak memiliki kekuatan untuk mencegah Amerika Serikat memindahkan sejumlah sistem rudal pertahanan udara Patriot yang selama ini ditempatkan di wilayahnya. Rudal-rudal strategis ini akan dialihkan menuju kawasan Timur Tengah yang kini sedang dilanda konflik. Pernyataan Lee muncul di tengah kekhawatiran publik mengenai potensi celah dalam pertahanan regional, meskipun ia bersikeras bahwa penarikan aset tersebut tidak akan melemahkan postur pencegahan terhadap Korea Utara.
Dalam rapat kabinet yang berlangsung baru-baru ini, Lee Jae Myung membahas kontroversi seputar pengiriman beberapa aset militer milik Pasukan AS di Korea (USFK) ke luar negeri. Ia mengakui bahwa Seoul telah menyampaikan keberatan atas kemungkinan relokasi tersebut, namun posisi Korea Selatan tidak cukup kuat untuk mengajukan tuntutan kepada Washington. "Pemerintah kita mengharapkan USFK untuk sepenuhnya berkontribusi terhadap stabilitas dan perdamaian di Semenanjung Korea," ujar Lee, seraya menambahkan bahwa ini adalah "kenyataan pahit" bahwa pendapat Seoul tidak dapat sepenuhnya diterima oleh AS.

"Meskipun kita telah menyatakan penolakan, kenyataannya adalah kita tidak dapat sepenuhnya memaksakan posisi kita," tegas Lee. Pemindahan beberapa senjata buatan AS, termasuk baterai artileri dan sistem pertahanan udara, dilaporkan terjadi saat AS dan Israel terlibat dalam pertempuran sengit dengan Iran sejak akhir Februari lalu, memicu kebutuhan akan penguatan pertahanan di Timur Tengah.
Meski demikian, Presiden Lee dengan tegas membantah bahwa pemindahan aset-aset tersebut akan menghambat strategi pencegahan terhadap Korea Utara. "Jika Anda bertanya apakah strategi pencegahan kita terhadap Korea Utara sangat terdampak, saya dapat mengatakan sama sekali tidak," katanya. Ia menekankan bahwa pengeluaran pertahanan dan kemampuan konvensional Korea Selatan jauh melampaui Korea Utara, sehingga ancaman dari Pyongyang tetap dapat ditangani secara efektif.
Korea Selatan saat ini menjadi tuan rumah bagi kehadiran militer AS yang signifikan, dengan sekitar 28.500 tentara AS dan berbagai sistem pertahanan canggih, termasuk sistem pencegat rudal Patriot. Laporan dari media lokal Korea Selatan menyebutkan bahwa beberapa baterai rudal Patriot telah diterbangkan dari Pangkalan Udara Osan, kemungkinan untuk dikerahkan ke pangkalan AS di Arab Saudi dan Uni Emirat Arab. Namun, informasi mengenai tujuan akhir pengerahan ini belum dikonfirmasi secara resmi oleh Seoul maupun USFK.
Situasi ini menyoroti kompleksitas hubungan aliansi dan kedaulatan, di mana kepentingan regional dan global terkadang berbenturan. Keputusan AS untuk memindahkan aset strategisnya mencerminkan prioritas militernya dalam menghadapi dinamika konflik di Timur Tengah, sementara Korea Selatan harus menyeimbangkan kebutuhan pertahanan domestik dengan realitas ketergantungan pada sekutunya.

