Internationalmedia.co.id melaporkan serangan balasan Iran terhadap Israel yang melibatkan rudal balistik jarak menengah Sejjil-2. Ini merupakan kali pertama rudal tersebut digunakan dalam konflik bersenjata antara kedua negara. Serangan yang disebut sebagai ‘Operasi Janji Sejati 3’ ini, menurut klaim IRGC, menghantam beberapa target strategis di Israel, termasuk kantor Mossad dan pangkalan udara. Namun, tingkat kerusakan masih dalam proses verifikasi oleh pengamat independen. Laporan dari akun X (sebelumnya Twitter) Daily Iran Military menyebutkan gelombang kedua belas serangan melibatkan peluncuran rudal Sejjil ke wilayah yang mereka sebut sebagai "wilayah pendudukan Palestina."
Sejjil, menurut data CSIS Missile Defense Project, adalah rudal balistik jarak menengah (MRBM) buatan Iran yang menggunakan bahan bakar padat. Keunggulannya terletak pada kecepatan pengerahan dan kesulitan deteksi, berbeda dengan rudal berbahan bakar cair seperti Shahab-3. Rudal dua tahap ini dikembangkan sebagai bagian dari program pertahanan Iran dan pertama kali diuji coba pada November 2008. Uji coba selanjutnya, termasuk peluncuran Sejjil-2 pada Mei 2009, menunjukkan peningkatan akurasi dan jangkauan hingga 1.900 km. Bahkan, ada laporan belum terkonfirmasi mengenai pengembangan Sejjil-3 dengan jangkauan hingga 4.000 km. Setelah sempat vakum, rudal ini kembali muncul dalam latihan militer "Nabi Azam 15" pada Januari 2021.

Kemampuan peluncuran dari kendaraan mobile memberikan Iran fleksibilitas strategis dan daya tahan yang lebih tinggi terhadap serangan mendadak. Nama "Sejjil," berasal dari bahasa Arab dan Al-Qur’an, merujuk pada batu yang digunakan burung Ababil untuk menghancurkan pasukan gajah, melambangkan kekuatan dan kehancuran. Spesifikasi teknis Sejjil, menurut CSIS, meliputi kemampuan manuver dan daya ledak yang signifikan, meski detail spesifiknya masih terbatas. Penggunaan rudal Sejjil dalam konflik ini menimbulkan pertanyaan baru tentang kemampuan militer Iran dan implikasi geopolitiknya di Timur Tengah.
