Internationalmedia.co.id – News. Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dijadwalkan menggelar pertemuan penting pada Senin, 12 Januari mendatang, menyusul eskalasi serangan militer Rusia yang masif terhadap Ukraina. Sidang darurat ini dipicu oleh situasi kemanusiaan yang memburuk, terutama di ibu kota Kyiv, yang kini menghadapi krisis pemanas di tengah suhu beku.
Permintaan sidang darurat ini muncul setelah Wali Kota Kyiv, Vitaliy Klitschko, mendesak penduduknya untuk mengungsi dari kota. Pasalnya, serangan-serangan Rusia telah menyebabkan pemadaman pemanas massal, membuat separuh bangunan tempat tinggal di Kyiv tanpa pasokan panas. Duta Besar Ukraina untuk PBB, Andriy Melnyk, mengecam tindakan Moskow. Dalam suratnya kepada Dewan Keamanan, Melnyk menegaskan bahwa "Federasi Rusia telah mencapai tingkat kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan yang mengerikan dengan terornya terhadap warga sipil."

Di tengah ketegangan yang memuncak, Kremlin secara resmi mengonfirmasi peluncuran rudal balistik jenis Oreshnik ke wilayah Ukraina. Ini merupakan kali kedua rudal tersebut digunakan sejak invasi dimulai pada Februari 2022, menandai peningkatan kapabilitas serangan Rusia.
Melnyk lebih lanjut mengungkapkan kekhawatiran serius, menyebutkan bahwa rezim Federasi Rusia secara terbuka mengklaim telah menggunakan rudal balistik jarak menengah ‘Oreshnik’ di wilayah Lviv. "Serangan semacam itu merupakan ancaman serius dan belum pernah terjadi sebelumnya terhadap keamanan benua Eropa," tulisnya. Moskow sendiri sesumbar bahwa rudal Oreshnik, yang dapat dilengkapi dengan hulu ledak nuklir maupun konvensional, "tidak mungkin dihentikan" oleh sistem pertahanan mana pun.
Menurut sumber diplomatik yang dikutip oleh kantor berita AFP pada Sabtu (10/1/2026), permintaan Ukraina untuk mengadakan pertemuan darurat Dewan Keamanan PBB ini mendapat dukungan kuat dari enam negara anggota: Prancis, Latvia, Denmark, Yunani, Liberia, dan Inggris.

