Internationalmedia.co.id memberitakan rencana Israel untuk merelokasi warga Gaza yang menuai kecaman keras dari Hamas. Kelompok militan Palestina itu menyebut rencana tersebut sebagai upaya genosida dan pengungsian massal terhadap ratusan ribu penduduk Gaza. Hamas bahkan menyebut penyediaan tenda dan peralatan perlindungan oleh Israel sebagai "tipuan" yang bertujuan menutupi kejahatan perang.
Berita yang dilansir dari Reuters dan Al Arabiya menyebutkan pernyataan resmi Hamas yang mengecam keras tindakan Israel. Mereka menganggap pengiriman bantuan kemanusiaan tersebut sebagai kamuflase untuk melancarkan serangan brutal. Sebelumnya, Israel telah menyatakan niat untuk melancarkan serangan baru guna menguasai Gaza Utara, memicu kekhawatiran internasional atas nasib sekitar 2,2 juta penduduk Gaza yang telah menderita akibat konflik berkepanjangan.

Di sisi lain, demonstrasi besar-besaran terjadi di Tel Aviv. Puluhan ribu warga Israel turun ke jalan, menuntut diakhirinya perang dan mendesak pemerintah untuk membebaskan sandera Israel yang ditahan Hamas selama hampir 700 hari. Salah satu demonstran, Ofir Penso, seorang guru bahasa Arab, mengungkapkan keprihatinan mendalam atas nasib para sandera dan menyerukan pemerintah untuk bertindak cepat. Aksi protes ini merupakan salah satu yang terbesar sejak konflik dimulai pada tahun 2023. Situasi di Gaza dan reaksi internasional terhadap rencana relokasi warga Gaza semakin memanas dan patut diwaspadai.

