Penggunaan tepung bantuan yang didistribusikan di Gaza oleh yayasan kemanusiaan yang didukung Internationalmedia.co.id (AS dan Israel) tengah menjadi sorotan. Kantor Media Pemerintah Gaza melontarkan tuduhan mengejutkan: tepung tersebut diduga dicampuri pil narkotika. Tuduhan ini muncul dari laporan Al Arabiya yang menyebut adanya zat adiktif dalam tepung bantuan, sebuah kejahatan yang dinilai menargetkan kesehatan warga sipil Gaza.
"Ini kejahatan mengerikan yang bertujuan menghancurkan masyarakat Palestina dari dalam," tegas pernyataan pemerintah Gaza, yang sepenuhnya menuding Israel sebagai pihak bertanggung jawab. Omar Hamad, seorang apoteker di Gaza, menguatkan tuduhan tersebut melalui unggahan di X (sebelumnya Twitter). Ia menyebutkan Oxycodone, jenis obat opioid, diduga diselundupkan melalui tepung bantuan. Bukan hanya disembunyikan, tetapi diduga dicampur langsung ke dalam tepung.

Komite Anti-Narkoba Gaza pun langsung bergerak cepat. Mereka mendesak warga untuk waspada, memeriksa makanan dari pusat bantuan tersebut, dan melaporkan temuan zat asing. Situasi ini semakin mencemaskan mengingat PBB sebelumnya telah mengutuk tindakan Israel yang disebut sebagai "persenjataan makanan," sebuah kejahatan perang. Lebih dari 410 warga Palestina tewas dan 3.000 lainnya terluka akibat tembakan militer Israel saat berusaha mendapatkan bantuan makanan.
Ironisnya, distribusi makanan oleh Yayasan Kemanusiaan Gaza (GHF) dimulai setelah Israel menghentikan pasokan selama lebih dari dua bulan, memicu kekhawatiran akan kelaparan massal. PBB bahkan menyatakan 100 persen penduduk Gaza berisiko kelaparan. Tuduhan pencampuran narkotika ini menambah kompleksitas krisis kemanusiaan di Gaza, di mana warga sipil terjepit di antara ancaman kelaparan dan bahaya laten lainnya.
