Internationalmedia.co.id memberitakan sebuah laporan mengejutkan dari Haaretz, surat kabar Israel, yang mengungkap perintah militer Israel untuk menembaki warga Palestina yang mengantre bantuan di Gaza. Ratusan tentara Israel mengaku mendapat instruksi untuk menembak warga sipil, menggunakan kekuatan mematikan yang tak perlu terhadap mereka yang tampak tak mengancam. Advokat Jenderal Militer Israel pun telah memerintahkan penyelidikan atas dugaan kejahatan perang ini, seperti yang dilaporkan Reuters dan Al Arabiya pada Sabtu (28/6/2025).
Namun, pihak militer Israel membantah keras tuduhan tersebut melalui Reuters. Mereka menyatakan tak pernah memerintahkan penembakan sengaja terhadap warga sipil. Militer Israel mengklaim tengah meningkatkan "respons operasional" di area distribusi bantuan dengan memasang pagar dan rambu baru, serta membuka rute tambahan. Haaretz sendiri mengutip sumber anonim yang menyebutkan adanya unit militer khusus yang ditugaskan untuk menyelidiki insiden yang mungkin melanggar hukum internasional selama bulan lalu.

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, dan Menteri Pertahanan Israel, Katz, juga ikut membantah laporan Haaretz, menyebutnya sebagai "kebohongan jahat" yang bertujuan mencemarkan nama baik militer. Namun, berdasarkan laporan The Associated Press dan Al Arabiya, lebih dari 500 warga Palestina telah tewas dan ratusan lainnya terluka saat mencari bantuan makanan sejak Yayasan Kemanusiaan Gaza (GHF) mulai mendistribusikan bantuan sekitar sebulan lalu. Kementerian Kesehatan Gaza mencatat insiden penembakan dan pembunuhan hampir setiap hari di jalur menuju pusat distribusi. Enam orang dilaporkan tewas pada Jumat (27/6) saat berusaha mendapatkan makanan di Jalur Gaza selatan. Tragedi ini terjadi di dekat pusat bantuan GHF yang didukung Amerika Serikat dan area lintasan truk bantuan PBB sejak akhir Mei lalu. Benarkah klaim pembantaian ini? Investigasi lebih lanjut masih diperlukan untuk mengungkap kebenaran di balik peristiwa mengerikan ini.
