Internationalmedia.co.id melaporkan, Hizbullah, kelompok berpengaruh di Lebanon, memberikan ucapan selamat kepada Iran atas apa yang disebutnya sebagai "kemenangan Ilahi" atas Israel setelah perang 12 hari berakhir. Pernyataan tersebut disampaikan menyusul gencatan senjata yang mulai berlaku pada Selasa (24/6/2025), mengakhiri pertempuran udara sengit antara Teheran dan Tel Aviv yang mengakibatkan banyak korban jiwa dan kerusakan besar di kedua negara.
Dalam pernyataan resmi yang dikutip internationalmedia.co.id dari AFP, Hizbullah memuji serangan-serangan Iran yang disebutnya tepat sasaran dan menyakitkan terhadap Israel, serta respon cepat terhadap serangan Amerika Serikat terhadap fasilitas nuklir Iran. Serangan AS pada Minggu (22/6/2025) dini hari terhadap fasilitas nuklir Fordow, Isfahan, dan Natanz, menjadi pemicu eskalasi konflik.

Hizbullah menyebut berakhirnya perang sebagai awal "fase sejarah baru" dalam menghadapi hegemoni Amerika dan apa yang disebutnya sebagai arogansi Zionis di kawasan. Kelompok ini menyatakan dukungan kuat dan tak tergoyahkan kepada Republik Islam Iran, kepemimpinannya, dan rakyatnya. Mereka memperingatkan bahwa setiap penyerahan diri atau konsesi hanya akan meningkatkan arogansi dan dominasi musuh di kawasan tersebut.
Perang antara Iran dan Israel dimulai pada 13 Juni 2025, ketika Israel melancarkan serangan udara besar-besaran terhadap fasilitas nuklir dan militer Iran. Iran membantah tuduhan pengembangan senjata nuklir. Data Kementerian Kesehatan Iran menyebutkan sedikitnya 627 orang tewas dan lebih dari 4.800 lainnya luka-luka akibat serangan udara Israel. Sementara itu, otoritas Tel Aviv melaporkan sedikitnya 28 warga Israel tewas akibat serangan balasan Iran.
Mohammed Raad, kepala blok Hizbullah di parlemen Lebanon, menyebut Iran sebagai kekuatan pencegah regional yang telah membuktikan keteguhannya melawan musuh yang berusaha memaksakan hegemoni di kawasan. Dukungan Iran kepada Hizbullah, baik finansial maupun militer, telah berlangsung sejak berdirinya kelompok tersebut pada tahun 1980-an. Meskipun Hizbullah mengalami pelemahan dalam konfrontasi sebelumnya dengan Israel, pernyataan kemenangan ini menandai babak baru dalam dinamika geopolitik kawasan tersebut.
