Internationalmedia.co.id – News – Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menyuarakan kekecewaan mendalam terhadap Amerika Serikat, yang dinilainya kini terlalu sibuk dengan konflik di Iran, sehingga mengabaikan Ukraina. Kondisi ini, menurut Zelensky, berdampak serius pada kelanjutan perundingan damai serta pasokan senjata krusial yang sangat dibutuhkan negaranya.
Dalam pernyataannya kepada media publik Jerman, ZDF, Zelensky mengungkapkan bahwa para negosiator perdamaian AS yang sebelumnya aktif dalam upaya mengakhiri perang Rusia-Ukraina, seperti Steve Witkoff dan Jared Kushner, kini fokus utama mereka beralih pada perundingan dengan Iran. Ia menyebut keduanya sebagai sosok "pragmatis" yang berupaya menarik perhatian Putin agar mengakhiri perang. Namun, Zelensky mengkhawatirkan konsekuensinya.

"Apabila Washington hanya terlibat dalam dialog yang lunak tanpa tekanan berarti, ia khawatir Putin akan kehilangan rasa takutnya," tegas Zelensky, seperti dilansir kantor berita AFP baru-baru ini. Perundingan yang dipimpin AS untuk menyelesaikan konflik antara Rusia dan Ukraina sendiri dilaporkan telah terhenti sejak pecahnya perang di Iran pada 28 Februari. Negosiator dari kedua belah pihak belum bertemu lagi sejak Februari lalu di Jenewa, Swiss.
Selain terhambatnya perundingan, masalah pengiriman senjata dari AS ke Ukraina juga menjadi persoalan krusial. Zelensky menyebutnya sebagai "masalah besar." "Jika perang berlanjut, akan ada lebih sedikit senjata untuk Ukraina. Ini sangat penting, terutama dalam hal material untuk pertahanan udara," jelasnya.
Saat konferensi pers dalam kunjungannya ke Norwegia, Zelensky merinci bahwa kendala ini terutama menyangkut rudal pencegat PAC-3 dan PAC-2. Peralatan pertahanan udara ini sebagian besar dibeli melalui program PURL, sebuah inisiatif yang diluncurkan tahun lalu, memungkinkan Ukraina menerima peralatan AS yang dibiayai oleh negara-negara Eropa. "Pada awal perang di Timur Tengah, kami memahami bahwa kami dapat menghadapi tantangan," ujarnya, menggarisbawahi bahwa pengiriman senjata datang "perlahan," dan ini "menjadi situasi yang sangat pelik bagi Kyiv."
Di tengah bayang-bayang tantangan ini, Zelensky dan Perdana Menteri Norwegia Jonas Gahr Store mengumumkan penandatanganan "deklarasi bersama tentang peningkatan kerja sama pertahanan dan keamanan." Pemerintah Norwegia dalam pernyataannya mengindikasikan bahwa kedua negara akan memfasilitasi kerja sama yang lebih erat antara industri pertahanan Norwegia dan Ukraina, bahkan akan memproduksi drone Ukraina di Norwegia sebagai bagian dari upaya bersama memperkuat pertahanan.

