Internationalmedia.co.id – News – Paris, Prancis – Menggema di tengah ketegangan geopolitik global, Wakil Menteri Pertahanan Prancis, Alice Rufo, dengan tegas menyatakan bahwa Organisasi Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) tidak memiliki mandat untuk melancarkan operasi militer di Selat Hormuz. Pernyataan krusial ini disampaikan Rufo dalam sebuah forum yang dihelat media Le Point pada Rabu (1/4) waktu setempat, seperti dilaporkan Anadolu Agency pada Kamis (2/4/2026), menyusul kritik Amerika Serikat terhadap posisi Prancis terkait konflik Iran.
Menurut Rufo, setiap operasi militer di kawasan strategis tersebut "tidak akan menghormati hukum internasional." Ia mengingatkan kembali esensi dan batasan aliansi pertahanan trans-Atlantik tersebut. "Izinkan saya mengingatkan apa itu NATO: ini adalah aliansi militer yang berkaitan dengan keamanan wilayah, di kawasan Euro-Atlantik," tegas Rufo, menggarisbawahi fokus geografis NATO yang jelas.

Prancis, lanjut Rufo, secara konsisten tidak mendukung inisiatif yang dipimpin AS untuk membuka kembali Selat Hormuz melalui pembentukan koalisi militer. Selat Hormuz sendiri telah secara efektif ditutup oleh rezim Iran selama berminggu-minggu, menyusul pecahnya perang yang dipicu oleh serangan gabungan AS dan Israel pada akhir Februari. Kondisi ini telah memicu krisis energi global yang signifikan, mendorong kenaikan tajam harga minyak dan gas.
Paris, jelas Rufo, lebih memilih "untuk berupaya memulihkan arus dan kebebasan navigasi maritim, dan melakukannya melalui cara-cara non-ofensif." Meskipun demikian, ia mengakui adanya "kekesalan" dari pihak AS terkait situasi yang berkembang di Selat Hormuz.
Rufo juga menekankan pentingnya pemahaman Pasal 5 NATO yang berlandaskan pada prinsip pertahanan kolektif. "Ini bukan satu negara melindungi negara lainnya, ini kolektif. Ini disebut sebagai pertahanan kolektif, dan pencegahan juga kolektif," ujarnya. Ia menambahkan bahwa kekuatan aliansi akan semakin kokoh jika mampu menghindari perpecahan internal dan tetap berfokus pada misi intinya.
Lebih lanjut, Rufo menegaskan bahwa ia berbicara atas nama "negara pendiri aliansi Atlantik dan atas nama Uni Eropa," menyerukan agar Eropa memikul bagian yang lebih besar dalam pertahanan negaranya sendiri. "Ini bukan hanya pesan Prancis hari ini," katanya, sembari menyoroti bahwa AS juga semakin gencar menyerukan tanggung jawab Eropa yang lebih kuat dalam hal pertahanan.
"Yang kita inginkan adalah memajukan pertahanan Eropa dalam aliansi Atlantik. Ini menciptakan keandalan dan kepercayaan — dan kepercayaan lebih kuat," pungkas Rufo. Ia juga menyatakan bahwa kepercayaan tersebut sangat bergantung pada "kesediaan untuk membela diri kita sendiri," khususnya di Eropa.

