Sebuah gempa bumi berkekuatan Magnitudo (M) 7,7 mengguncang perairan Pasifik lepas pantai Prefektur Iwate, Jepang utara, memicu kekhawatiran baru di tengah laporan enam orang terluka. Meskipun tidak ada kerusakan besar yang dilaporkan, Badan Meteorologi Jepang (JMA) mengeluarkan peringatan serius mengenai potensi gempa super besar di masa mendatang. Internationalmedia.co.id – News melaporkan bahwa guncangan kuat ini bahkan terasa hingga ibu kota Tokyo, ratusan kilometer dari pusat gempa.
Gempa yang terjadi pada Senin (20/4) tersebut, meskipun tidak menyebabkan kerusakan infrastruktur yang signifikan, dilaporkan melukai enam orang hingga Selasa (21/4) pagi waktu setempat, dengan dua di antaranya mengalami luka serius. Badan Manajemen Kebakaran dan Bencana (FDMA) mengonfirmasi tidak ada laporan kebakaran atau kerusakan pada fasilitas vital. Peringatan tsunami setinggi tiga meter sempat dikeluarkan, namun kemudian dicabut setelah gelombang setinggi 80 sentimeter menghantam pelabuhan Kuji di Iwate, diikuti serangkaian gelombang kecil lainnya di berbagai lokasi di Jepang utara.

Beberapa jam setelah guncangan M 7,7 itu, JMA secara khusus memperingatkan adanya peningkatan risiko gempa super besar, yakni gempa dengan Magnitudo 8,0 atau lebih kuat. JMA menyatakan bahwa "kemungkinan terjadinya gempa bumi besar baru relatif lebih tinggi daripada pada masa normal," sebuah pernyataan yang menambah kewaspadaan di seluruh negeri.
Menanggapi situasi ini, pemerintah daerah di wilayah terdampak mengeluarkan arahan evakuasi tidak wajib kepada lebih dari 182.000 penduduk, menurut data FDMA. Jepang sendiri merupakan salah satu negara paling aktif secara seismik di dunia, terletak di atas empat lempeng tektonik utama di sepanjang tepi barat "Cincin Api" Pasifik. Negara berpenduduk sekitar 125 juta jiwa ini rata-rata mengalami sekitar 1.500 guncangan gempa setiap tahun, menyumbang sekitar 18 persen dari total gempa bumi global.
Sejarah mencatat, Jepang pernah diguncang gempa bawah laut dahsyat berkekuatan M 9,0 pada tahun 2011, yang memicu tsunami mematikan dan menyebabkan bencana di pembangkit nuklir Fukushima. Tragedi tersebut menewaskan atau menyebabkan sekitar 18.500 orang hilang, menjadi pengingat pahit akan kekuatan alam yang tak terduga.
