Internationalmedia.co.id – News – Brasilia, Amerika Latin kembali dihadapkan pada eskalasi ketegangan regional. Menyusul operasi militer Amerika Serikat yang berujung pada penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro akhir pekan lalu, Brasil segera merespons dengan mengerahkan pasukannya ke wilayah perbatasan dengan Venezuela. Langkah ini sontak memicu kekhawatiran akan stabilitas di kawasan.
Keputusan pengerahan pasukan ini, sebagaimana dilaporkan Al Jazeera pada Jumat (9/1/2026), tertuang dalam dekrit pemerintah Brasil yang dirilis sehari sebelumnya, Kamis (8/1). Dekrit tersebut secara resmi mengizinkan Pasukan Keamanan Publik Nasional (FNSP), yang sering disebut sebagai garda nasional Brasil, untuk ditempatkan di Pacaraima dan Boa Vista, ibu kota negara bagian Roraima. Jumlah personel yang dikerahkan tidak diungkapkan secara spesifik.

Negara bagian Roraima, yang terletak di utara Brasil, merupakan wilayah strategis yang berbatasan langsung dengan Venezuela. Area ini dikenal sebagai sarang bagi kelompok-kelompok bersenjata ilegal yang terlibat dalam perdagangan narkoba dan eksploitasi tambang ilegal di kedua sisi perbatasan. Jarak Roraima sekitar 213 kilometer dari garis perbatasan kedua negara, menjadikannya rentan terhadap aktivitas lintas batas.
Pengerahan FNSP ini merupakan respons langsung terhadap serangkaian peristiwa dramatis. Pada Sabtu (3/1) lalu, Amerika Serikat melancarkan serangan udara ke Venezuela, yang berpuncak pada penangkapan Presiden Maduro atas tuduhan narkoterorisme. Hanya sehari berselang, Minggu (4/1), Brasil mengambil langkah awal dengan menutup sementara perbatasannya di dekat Pacaraima.
Mandat dekrit tersebut jelas: FNSP akan bertugas mendukung lembaga keamanan publik negara bagian, dengan fokus utama pada pemeliharaan ketertiban umum, serta menjamin keselamatan warga dan properti mereka. Ini dianggap sebagai langkah esensial dalam situasi yang berkembang.
Sementara itu, laporan dari media-media lokal Brasil pada Rabu (7/1) mengindikasikan bahwa Venezuela juga telah memperkuat kehadiran militernya di sepanjang perbatasan. Kekhawatiran semakin meningkat mengingat wilayah tersebut juga menjadi sarang bagi berbagai kelompok bersenjata, mulai dari faksi bersenjata Venezuela hingga geng-geng kriminal Brasil yang terkenal seperti Komando Ibu Kota Pertama (PCC) dan Komando Merah (CV).
Gimena Sanchez, Direktur Andes untuk Kantor Washington di Amerika Latin (WOLA), dalam wawancaranya dengan Al Jazeera, menilai pengerahan pasukan Brasil sebagai "langkah yang tepat". Menurut Sanchez, gelombang kekerasan yang dipicu oleh kelompok pemberontak Kolombia yang aktif di Venezuela telah memaksa banyak penduduk untuk mengungsi lebih jauh ke selatan, menuju wilayah Brasil. "Sangat masuk akal bagi Brasil untuk memperkuat pengamanan perbatasannya," tegas Sanchez.
Di sisi lain, Brasil secara tegas mengkritik keras tindakan Amerika Serikat terhadap Venezuela. Presiden Luiz Inacio Lula da Silva, melalui platform media sosialnya, menyatakan bahwa AS telah "melampaui batas-batas yang tidak dapat diterima" dalam tindakannya.
Untuk informasi lebih lanjut dan analisis mendalam mengenai situasi ini, saksikan liputan khusus internationalmedia.co.id dan simak berbagai ulasan terkait mengapa penangkapan Maduro oleh AS memicu kontroversi.
