Internationalmedia.co.id – News – Jakarta, 10 Maret 2026 – Konflik di Timur Tengah mencuatkan kontroversi baru dengan pernyataan yang saling bertolak belakang dari dua kubu utama. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, secara tegas mengklaim bahwa operasi militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Republik Islam Iran telah menemui kegagalan total. Pernyataan ini berbanding terbalik dengan klaim Presiden AS Donald Trump yang menyebut perang sudah "sangat tuntas" dan hampir berakhir.
Araghchi, dalam keterangannya yang dilansir Al Jazeera, mengungkapkan bahwa "Rencana A gagal, dan sekarang mereka mencoba rencana lain, tetapi semuanya juga gagal." Ia menyoroti bahwa AS dan Israel tidak memiliki tujuan akhir yang jelas, sehingga melancarkan serangan tanpa pandang bulu ke area permukiman. Serangan terhadap infrastruktur energi Iran juga disebutnya hanya memicu lonjakan harga minyak global. "Mereka gagal mencapai tujuan mereka di awal, dan sekarang, setelah 10 hari, saya pikir mereka tidak memiliki tujuan," tegas Menlu Iran itu.

Lebih lanjut, Araghchi juga menyatakan kepada PBS News bahwa opsi negosiasi dengan AS tidak lagi menjadi agenda, mengingat "pengalaman yang sangat pahit" dari putaran pembicaraan nuklir sebelumnya. "Mereka berjanji kepada kami bahwa mereka tidak memiliki niat untuk menyerang kami, dan mereka ingin menyelesaikan masalah nuklir Iran secara damai dan menemukan solusi yang dinegosiasikan," kenang Araghchi. "Namun, mereka tetap memutuskan untuk menyerang kami." Ia menambahkan, "Saya rasa pertanyaan tentang berdialog dengan Amerika… sekali lagi tidak akan dipertimbangkan."
Di sisi lain, dari Washington, Presiden Donald Trump memiliki pandangan yang sangat berbeda. Trump mengklaim bahwa perang melawan Iran saat ini sudah "sangat tuntas," bahkan jauh lebih cepat dari perkiraan awal yang memprediksi durasi empat hingga lima pekan.
Dalam wawancara telepon dengan CBS News pada 9 Maret, Trump menyebut bahwa "perang ini sudah sangat tuntas, hampir sepenuhnya." Ia menggambarkan kondisi militer Iran yang menurutnya telah lumpuh total: "Mereka tidak memiliki angkatan laut, tidak ada komunikasi, mereka tidak memiliki angkatan udara. Rudal-rudul mereka tinggal sedikit. Drone-drone mereka dihancurkan di mana-mana, termasuk pabrik pembuatan drone mereka." Militer AS sendiri melaporkan telah menyerang lebih dari 3.000 target di wilayah Iran pada minggu pertama "Operation Epic Fury."
"Jika Anda lihat, mereka tidak memiliki apa pun yang tersisa. Tidak ada yang tersisa dalam artian militernya," ucap Trump saat berbicara kepada wartawan CBS News, Weijia Jiang. Ia menambahkan, "Kita sangat jauh lebih cepat dari jadwal" terkait durasi perang. Ketika ditanya apakah menurutnya perang akan segera berakhir, Trump memberikan jawaban yang penuh teka-teki: "Berakhirnya perang itu hanya ada di pikiran saya, bukan pikiran orang lain."
Pernyataan yang saling bertolak belakang ini menunjukkan ketegangan yang masih sangat tinggi di kawasan tersebut, dengan masing-masing pihak memiliki narasi kemenangan dan kegagalan sendiri dalam konflik yang terus berlanjut.

