Internationalmedia.co.id melaporkan bahwa situasi di Yaman semakin memanas. Setidaknya 11 staf Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ditahan oleh kelompok Houthi menyusul serangan yang menewaskan Perdana Menteri mereka. Insiden ini terjadi Minggu (31/8) waktu setempat, menimpa kompleks PBB di Sanaa dan Hodeidah.
Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, langsung merespon dengan tuntutan pembebasan tanpa syarat para pekerja PBB yang ditahan secara sewenang-wenang oleh otoritas Houthi. Utusan PBB untuk Yaman, Hans Grundberg, menambahkan bahwa Houthi juga melakukan penggeledahan paksa di kompleks PBB dan menyita sejumlah aset milik organisasi internasional tersebut.

Bukan kali pertama Houthi menahan staf PBB. Grundberg mengungkapkan bahwa sebanyak 23 personel PBB telah ditahan sejak tahun 2021, termasuk 8 pekerja yang ditahan pada Januari lalu. Program Pangan Dunia (WFP) juga mengkonfirmasi penahanan salah satu stafnya di Sanaa. Hingga saat ini, Houthi belum memberikan komentar resmi terkait insiden tersebut.
Penahanan ini dinilai melanggar kewajiban dasar Houthi untuk melindungi keselamatan dan martabat personel PBB yang bertugas di Yaman. Konflik selama satu dekade di negara tersebut telah menciptakan krisis kemanusiaan yang mengerikan, dengan lebih dari setengah penduduknya bergantung pada bantuan. Internationalmedia.co.id akan terus memantau perkembangan situasi ini dan memberikan informasi terbaru.
