Internationalmedia.co.id – News – Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu secara tegas menyatakan bahwa upaya rekonstruksi Jalur Gaza yang porak-poranda akibat konflik tak akan dimulai sebelum kelompok Hamas dilucuti senjatanya. Pernyataan krusial ini disampaikan Netanyahu bertepatan dengan digelarnya pertemuan perdana "Dewan Perdamaian" di Washington, Amerika Serikat.
Mengutip laporan dari AFP dan Al Arabiya pada Jumat (20/2/2026), pertemuan bersejarah tersebut dihadiri oleh sejumlah besar pemimpin global dan pejabat senior. Pembentukan dewan ini merupakan tindak lanjut dari upaya Amerika Serikat, Qatar, dan Mesir yang berhasil menengahi gencatan senjata pada Oktober lalu, mengakhiri konflik dua tahun yang melanda Jalur Gaza.

Dalam agenda pertemuan tersebut, Presiden AS Donald Trump diprediksi akan mengumumkan janji bantuan senilai lebih dari US$5 miliar untuk Gaza, mengingat kondisi sebagian besar infrastruktur di wilayah itu telah hancur lebur akibat peperangan. Menegaskan posisinya, Netanyahu dalam pidato yang disiarkan televisi pada sebuah upacara militer Kamis (19/2) waktu setempat, menyatakan, "Kami telah mencapai kesepakatan dengan sekutu kami, Amerika Serikat, bahwa tidak akan ada proses rekonstruksi di Gaza sebelum demiliterisasi Gaza sepenuhnya terlaksana."
Selain isu rekonstruksi, pertemuan di Washington juga menjadi fokus pembahasan rencana peluncuran Pasukan Stabilisasi Internasional (ISF). Pasukan ini diharapkan dapat menjamin keamanan dan ketertiban di Gaza pasca-konflik.
Namun, salah satu agenda paling sensitif yang dibahas oleh dewan adalah masa depan Hamas. Kelompok yang terlibat konflik bersenjata dengan Israel ini tetap memegang pengaruh signifikan di wilayah tersebut. Perlucutan senjata Hamas menjadi prasyarat utama dari Israel dan merupakan poin krusial dalam negosiasi tahap selanjutnya dari gencatan senjata.
Para pejabat Amerika Serikat, termasuk Steve Witkoff, utusan khusus Presiden Trump, menyatakan bahwa kemajuan signifikan tengah tercapai, dan Hamas mulai merasakan tekanan untuk menyerahkan persenjataannya. Israel sendiri telah mengusulkan serangkaian pembatasan ketat, termasuk penyitaan senjata api ringan pribadi yang dimiliki oleh anggota Hamas.

