Internationalmedia.co.id Mencekam! Kota Rio de Janeiro, Brasil, berubah menjadi lautan darah setelah operasi penggerebekan narkoba terbesar dalam sejarah negara bagian itu menewaskan puluhan orang. Pemandangan mengerikan mayat bergelimpangan menghiasi dua kawasan permukiman kumuh (favela) pada Selasa (28/10) waktu setempat, menyusul bentrokan sengit antara polisi dan para pengedar narkoba.
Dilansir dari AFP, operasi yang melibatkan 2.500 petugas bersenjata lengkap, kendaraan lapis baja, helikopter, dan drone ini menyasar dua favela di Rio de Janeiro bagian utara, Complexo da Penha dan Complexo do Alemao. Tembakan tanpa henti terdengar hingga dekat bandara internasional, sementara asap tebal mengepul dari berbagai titik kebakaran. Warga sipil terpaksa berlarian mencari perlindungan di tengah situasi yang mirip medan perang.

Gubernur Negara Bagian, Claudio Castro, menyebut operasi ini sebagai yang terbesar dalam sejarah. Pemerintah pusat menyatakan penggerebekan ini bertujuan untuk menghentikan ekspansi geng narkoba bernama Comando Vermelho (Komando Merah). Namun, operasi ini berujung pada tragedi dengan korban tewas mencapai 60 orang yang diduga anggota geng, serta empat petugas polisi.
Penggerebekan di favela memang bukan hal baru, namun skala dan dampaknya kali ini sungguh mencengangkan. Operasi ini bahkan melampaui penggerebekan paling mematikan sebelumnya pada tahun 2021 yang menewaskan 28 orang. Polisi mengerahkan dua helikopter, 32 kendaraan lapis baja, dan 12 kendaraan pembongkar untuk menghancurkan barikade yang dibangun para pengedar narkoba di jalan-jalan sempit favela. Hingga berita ini diturunkan, operasi masih terus berlangsung.
