Internationalmedia.co.id – Junta militer Myanmar kembali menunjukkan taringnya dalam memberantas kejahatan siber. Sebuah operasi besar-besaran menggerebek markas penipuan daring (scam online) di wilayah Shwe Kokko, dekat perbatasan Thailand, dan berhasil mengamankan lebih dari 300 orang yang seluruhnya merupakan warga negara asing (WNA).
Penggerebekan yang dilakukan pada Selasa (18/11) pagi waktu setempat ini, seperti dilansir media lokal The Global New Light of Myanmar, menjadi bukti keseriusan pemerintah dalam menindak praktik ilegal yang merugikan banyak pihak. Markas-markas scam online ini diketahui menjamur di wilayah perbatasan Myanmar yang rawan konflik sejak kudeta militer tahun 2021.

Bangunan-bangunan tersebut menjadi tempat berlindung bagi para pelaku penipuan yang menyasar pengguna internet dengan berbagai modus operandi, mulai dari penipuan asmara hingga bisnis palsu. Praktik haram ini diperkirakan menghasilkan keuntungan hingga puluhan miliar dolar Amerika Serikat setiap tahunnya.
Meskipun sebelumnya dituduh tutup mata terhadap praktik scam yang merajalela, junta Myanmar mulai melakukan penindakan keras sejak Februari lalu, setelah mendapat tekanan dari China, sekutu utama mereka. Beberapa pengamat menilai bahwa operasi penggerebekan yang semakin intensif merupakan bagian dari upaya propaganda junta untuk meredam tekanan dari Beijing tanpa mengorbankan keuntungan yang dinikmati oleh sekutu milisi mereka.
"Selama operasi tersebut, sebanyak 346 warga negara asing yang saat ini sedang diselidiki telah ditangkap," demikian laporan The Global New Light of Myanmar. Selain itu, "Nyaris 10.000 ponsel yang digunakan dalam operasi judi online juga disita," imbuh laporan tersebut.
Sejak kudeta tahun 2021, wilayah perbatasan Myanmar telah menjadi surga bagi markas-markas scam dan judi online. Para analis menuding bahwa lokasi-lokasi ini dikelola oleh ribuan pekerja sukarela dan korban perdagangan manusia dari berbagai negara.
China semakin geram dengan banyaknya warga negaranya yang menjadi pelaku sekaligus korban penipuan. Junta militer Myanmar pun menyalahkan kelompok oposisi bersenjata karena membiarkan markas-markas penipuan beroperasi di bawah perlindungan mereka. Junta mengklaim telah mengambil tindakan setelah merebut kembali kendali teritorial.
Laporan The Global New Light of Myanmar menyebutkan bahwa perusahaan bernama Yatai, yang dimiliki dan dikelola oleh seorang warga China-Kamboja bernama She Zhijiang, merupakan ‘entitas yang terlibat’ dalam mengelola area Shwe Kokko. She ditangkap di Thailand pada tahun 2022 dan telah diekstradisi ke China pekan lalu, di mana dia akan diadili atas berbagai tuduhan terkait judi online dan skema penipuan.
She dan perusahaannya telah dijatuhi sanksi oleh AS dan Inggris. AS menyebut She mengubah sebuah desa di perbatasan Myanmar-Thailand menjadi area Shwe Kokko yang disebut sebagai ‘kota resor yang dibangun khusus untuk perjudian, perdagangan narkoba, prostitusi, dan penipuan yang menargetkan orang-orang di seluruh dunia’.
Pada Oktober lalu, junta militer Myanmar juga menggerebek markas scam online di KK Park, yang terletak tak jauh dari Shwe Kokko. Junta mengklaim telah menghancurkan lebih dari 600 bangunan di area tersebut. Penggerebekan di KK Park menyebabkan ribuan orang melarikan diri ke perbatasan Thailand, termasuk 26 WNI.

