Iran kembali menjadi sorotan dunia setelah sejumlah fasilitas gas vitalnya dilaporkan menjadi sasaran serangan. Insiden ini terjadi hanya beberapa jam setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan penundaan ultimatum terhadap infrastruktur listrik Iran dan mengklaim adanya dialog. Internationalmedia.co.id – News melaporkan bahwa serangan yang diduga dilancarkan oleh AS dan Israel ini menargetkan dua fasilitas gas dan sebuah pipa gas strategis.
Menurut laporan kantor berita Fars, satu-satunya media Iran yang memberitakan insiden ini, gedung administrasi gas dan stasiun pengaturan tekanan gas di Jalan Kaveh, Isfahan, mengalami kerusakan parsial. Selain itu, serangan juga menyasar pipa gas pembangkit listrik Khorramshahr di wilayah barat daya Iran. Sebuah proyektil dikabarkan menghantam area di luar stasiun pengolahan pipa gas tersebut, meskipun tingkat kerusakannya belum dirinci.

Kejadian ini kontras dengan pernyataan Presiden Trump sehari sebelumnya, Senin (23/3), yang menyebut "semuanya berjalan sangat baik" dengan Iran. Trump bahkan mengumumkan pembicaraan dengan Teheran dan jeda lima hari untuk tidak menargetkan pembangkit listrik Republik Islam tersebut. Perubahan sikap mendadak ini muncul sesaat sebelum berakhirnya ultimatum dua hari yang ia berikan, di mana ia mengancam akan menyerang pembangkit listrik Iran jika Selat Hormuz tidak dibuka kembali.
Namun, klaim Trump segera dibantah oleh media Iran. Kantor berita semi-resmi Mehr, mengutip sumber di Teheran, menegaskan bahwa "tidak ada dialog" yang berlangsung antara Iran dan Washington. Sumber tersebut menduga komentar Trump merupakan upaya untuk "menurunkan harga energi dan mengulur waktu untuk melaksanakan rencana militer." Sementara itu, seorang pejabat AS yang tidak disebutkan namanya, seperti dilansir Anadolu Agency melalui Semafor, mengklarifikasi bahwa "penghentian serangan selama lima hari hanya berlaku untuk situs energi mereka." Pejabat itu menambahkan, "Ini bukan untuk situs militer dan angkatan laut, dan rudal balistik, dan basis industri pertahanan. Inisiatif awal (Operasi) Epic Fury akan terus berlanjut."
Pejabat AS tersebut juga mengungkapkan bahwa Israel, meskipun tidak terlibat langsung dalam negosiasi dengan Teheran, terus diberi informasi mengenai perkembangan situasi. Saat ini, hanya tiga individu yang berwenang untuk bernegosiasi langsung dengan Iran: Presiden Trump sendiri, utusan Timur Tengah Steve Witkoff, dan menantu Trump, Jared Kushner. Wakil Presiden JD Vance disebut-sebut dapat dilibatkan dalam diskusi jika diperlukan, menandakan pendekatan "jalur ganda" dalam strategi AS.

