Internationalmedia.co.id – News melaporkan, ketegangan di Timur Tengah mencapai puncaknya setelah serangan gabungan yang dilancarkan oleh Amerika Serikat (AS) dan Israel menargetkan sebuah bangunan krusial di Iran. Gedung yang menjadi sasaran adalah markas besar Majelis Pakar, sebuah lembaga vital yang berlokasi di kota suci Qom, Iran. Lembaga ini memiliki peran sentral dalam menentukan masa depan kepemimpinan tertinggi negara tersebut.
Menurut laporan dari Al-Jazeera pada Selasa (3/3/2026), serangan ini bukan satu-satunya insiden. Kantor berita Mehr juga mengonfirmasi adanya serangan udara terpisah yang menghantam area di sekitar Lapangan Revolusi Teheran. Hingga kini, detail mengenai skala kerusakan atau dampak spesifik terhadap gedung Majelis Pakar masih belum dapat dipastikan, menambah ketidakpastian di tengah situasi yang memanas.

Serangan terhadap Majelis Pakar ini terjadi di tengah periode krusial bagi Iran. Negara tersebut baru saja berduka atas wafatnya Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei pada Sabtu (28/2), yang juga dilaporkan akibat serangan AS dan Israel. Dengan kepergian Khamenei, Majelis Pakar memegang kunci penentuan suksesornya, menjadikannya target yang sangat strategis dalam konflik yang sedang berlangsung.
Rentetan insiden ini merupakan bagian dari eskalasi konflik yang lebih luas, di mana AS dan Israel terus melancarkan serangan ke berbagai wilayah di Iran. Dampak kemanusiaan dari gejolak ini mulai terasa, dengan setidaknya 300 warga Iran dilaporkan telah mencari perlindungan. Menurut laporan BBC pada Selasa (3/3), para pengungsi tersebut tiba di Provinsi Balochistan, Pakistan, sebuah wilayah yang berbatasan langsung dengan Iran.
Pemilihan Balochistan sebagai tujuan pengungsian juga menimbulkan kekhawatiran tersendiri. Provinsi ini dikenal sebagai salah satu wilayah yang paling bergejolak di Pakistan, menjadi sarang bagi berbagai kelompok separatis yang telah melancarkan pemberontakan selama puluhan tahun. Kondisi ini menambah kompleksitas situasi bagi para pengungsi yang mencari keamanan di tengah ketidakpastian politik dan militer.

