Internationalmedia.co.id – Aksi demonstrasi di Madagaskar berubah menjadi tragedi berdarah, menewaskan sedikitnya 22 orang dan melukai lebih dari seratus lainnya. Kekerasan yang dilakukan oleh aparat keamanan dalam menanggapi aksi protes tersebut menuai kecaman dari berbagai pihak.
Kantor Komisaris Tinggi Hak Asasi Manusia PBB, Volker Turk, menyatakan keterkejutannya atas jatuhnya korban jiwa dan luka-luka dalam demonstrasi yang dipicu oleh pemadaman listrik dan krisis air bersih di Madagaskar. "Saya terkejut dan sedih atas pembunuhan dan cedera dalam protes atas pemadaman air dan listrik di Madagaskar," ujarnya dalam sebuah pernyataan resmi.

Menurut laporan, beberapa korban tewas adalah demonstran dan warga sipil yang menjadi korban tindakan represif aparat kepolisian dan pasukan keamanan. Aksi protes yang berlangsung selama beberapa hari ini awalnya dipicu oleh kekecewaan masyarakat terhadap pemadaman listrik yang kerap terjadi dan sulitnya akses terhadap air bersih. Namun, demonstrasi tersebut kemudian berujung pada bentrokan sengit dengan pihak berwenang.
Situasi di Madagaskar saat ini sangat memprihatinkan. PBB mendesak pemerintah Madagaskar untuk segera melakukan investigasi menyeluruh terhadap insiden kekerasan ini dan memastikan bahwa para pelaku bertanggung jawab atas tindakan mereka. Selain itu, PBB juga menyerukan kepada semua pihak untuk menahan diri dan menghindari tindakan yang dapat memperburuk situasi.
