Sebuah insiden ledakan mengguncang Kota Mykolaiv di Ukraina selatan pada Senin malam, menyebabkan tujuh petugas kepolisian Ukraina mengalami luka-luka, dua di antaranya dalam kondisi kritis. Internationalmedia.co.id – News melaporkan bahwa peristiwa ini menambah daftar panjang ketegangan di negara tersebut, terutama setelah ledakan serupa yang terjadi hanya dua hari sebelumnya di Lviv, Ukraina barat, yang oleh Kyiv secara tegas disebut sebagai "serangan teroris" yang didalangi oleh Rusia.
Kepala Kepolisian Nasional Ukraina, Ivan Vyguivsky, mengonfirmasi bahwa ledakan di Mykolaiv terjadi sekitar pukul 18.10 waktu setempat. Ia mengungkapkan keprihatinannya, menyatakan bahwa tim medis sedang berjuang keras untuk menyelamatkan nyawa para korban yang terluka parah. Meskipun rincian mengenai penyebab pasti ledakan belum diungkapkan, Vyguivsky mengecam keras insiden tersebut sebagai "serangan yang ditargetkan" dengan tujuan jelas untuk "membunuh petugas polisi Ukraina" dan "menggoyahkan stabilitas negara". Peristiwa ini terjadi menjelang peringatan empat tahun invasi skala penuh Rusia, menambah bobot pada tuduhan tersebut.

Vyguivsky secara eksplisit menghubungkan insiden Mykolaiv dengan serangan di Lviv. "Dua hari yang lalu, serangan teroris terhadap petugas polisi terjadi di Lviv. Ini bukan kebetulan," tegasnya, menyiratkan adanya pola atau koordinasi di balik serangkaian kejadian ini.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky, melalui platform X, menyatakan bahwa "semua keadaan sedang diklarifikasi" terkait insiden Mykolaiv, termasuk potensi keterlibatan aksi terorisme. Zelensky juga mengungkapkan bahwa pihak berwenang telah berhasil menangkap "beberapa" tersangka pasca-serangan di Lviv, yang pada malam Sabtu hingga Minggu merenggut nyawa seorang polisi wanita muda dan melukai 25 orang lainnya. Sementara itu, Menteri Dalam Negeri Igor Klymenko secara langsung menuding Rusia sebagai pihak yang bertanggung jawab atas ledakan-ledakan ini.
Insiden di Mykolaiv dan Lviv ini bukanlah kasus terisolasi. Sejak invasi skala penuh Rusia dimulai pada Februari 2022, pasukan militer dan pejabat Ukraina telah berulang kali menjadi target serangan ledakan yang terjadi jauh di belakang garis depan pertempuran, menunjukkan pola serangan yang konsisten terhadap infrastruktur keamanan dan personel kunci negara.

