Sebuah insiden mengejutkan mewarnai latihan militer darurat antara Amerika Serikat dan Filipina. Sebuah pesawat angkut militer AS dilaporkan menabrak pembatas beton saat mencoba lepas landas dari ruas jalan raya, menyebabkan lima personel militer AS terluka. Internationalmedia.co.id – News mengabarkan, peristiwa ini terjadi di wilayah Filipina, memicu penyelidikan lebih lanjut dari otoritas setempat.
Insiden nahas ini terjadi pada Selasa sore, 24 Februari, di ruas jalan lingkar beton di kota Laoac, Provinsi Pangasinan. Menurut laporan para pejabat Filipina, seorang pilot dan dua personel militer AS lainnya segera dilarikan ke rumah sakit setempat untuk mendapatkan perawatan medis intensif. Sementara itu, dua personel lain yang juga mengalami luka-luka mendapatkan penanganan awal di lokasi kejadian.

Latihan yang melibatkan pesawat angkut Angkatan Udara AS ini, menurut tiga pejabat Filipina yang enggan disebutkan namanya, telah direncanakan dan dikoordinasikan secara penuh dengan otoritas sipil, kepolisian, serta militer Filipina. Aktivitas ini dirancang sebagai "zona pendaratan alternatif", di mana pesawat militer berlatih pendaratan dan lepas landas dari jalan raya.
Salah satu pejabat Filipina menjelaskan bahwa pesawat militer AS tersebut berhasil melakukan pendaratan selama "aktivitas yang diawasi", namun tiba-tiba berbelok arah saat proses lepas landas. Jenis latihan unik semacam ini dinilai sangat krusial untuk mempersiapkan pasukan militer dalam menghadapi berbagai skenario darurat, terutama ketika bandara dan landasan pacu konvensional tidak dapat diakses, misalnya saat terjadi topan atau gempa bumi besar.
Hingga berita ini diturunkan, penyebab pasti insiden tersebut masih belum diketahui secara jelas. Otoritas Filipina kini tengah melakukan penyelidikan mendalam untuk mengungkap fakta di balik kecelakaan ini.
Kehadiran pasukan AS untuk latihan semacam ini diizinkan berdasarkan Perjanjian Pasukan Kunjungan (Visiting Forces Agreement) tahun 1999. Dalam beberapa tahun terakhir, latihan tempur gabungan skala besar antara AS dan Filipina semakin difokuskan pada upaya membantu Filipina mempertahankan kepentingan teritorialnya serta mempromosikan kebebasan navigasi dan penerbangan di Laut China Selatan, wilayah yang terletak di sebelah barat Pangasinan.
Konfrontasi antara penjaga pantai dan pasukan angkatan laut dari Tiongkok dan Filipina memang telah meningkat secara signifikan dalam beberapa tahun terakhir di perairan yang disengketakan tersebut, yang sebagian besar diklaim oleh Beijing. Selain itu, Vietnam, Malaysia, Brunei, dan Taiwan juga terlibat dalam kebuntuan teritorial yang telah berlangsung lama ini.
Meskipun Amerika Serikat tidak mengajukan klaim teritorial apa pun di perairan yang disengketakan, Washington telah berulang kali menegaskan komitmennya untuk membela Filipina berdasarkan perjanjian pertahanan bersama. Hal ini berlaku jika pasukan, kapal, dan pesawat Manila diserang secara bersenjata, termasuk di wilayah Laut China Selatan.

