Kuwait, sebuah negara di Teluk Persia, secara resmi mengumumkan pembukaan kembali ruang udaranya yang sempat ditutup. Keputusan ini diambil setelah penutupan sementara yang diberlakukan sejak akhir Februari lalu, menyusul eskalasi ketegangan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran di kawasan tersebut. Internationalmedia.co.id – News melaporkan, Direktur Jenderal Otoritas Penerbangan Sipil Kuwait, Hamoud Mubarak, mengonfirmasi bahwa lalu lintas udara di Bandara Internasional Kuwait telah kembali normal mulai Kamis lalu.
Dalam pernyataannya yang dikutip oleh Aljazeera dan disiarkan ulang oleh internationalmedia.co.id, Mubarak menjelaskan bahwa penangguhan lalu lintas udara tersebut bersifat sementara dan preventif. "Ruang udara di Bandara Internasional Kuwait telah dibuka kembali mulai hari Kamis, setelah penangguhan lalu lintas udara sementara dan preventif sejak 28 Februari akibat situasi di kawasan tersebut," ujar Mubarak, mengindikasikan langkah kehati-hatian yang diambil pemerintah Kuwait.

Mubarak menegaskan bahwa keputusan untuk membuka kembali ruang udara ini merupakan hasil dari pertimbangan matang dan evaluasi menyeluruh. Pihak berwenang telah menyelesaikan penilaian terhadap dampak yang mungkin dialami beberapa fasilitas bandara, menyusul insiden serangan yang melibatkan Iran dan kelompok-kelompok bersenjata yang berafiliasi dengannya. "Ini adalah bagian dari rencana bertahap yang telah dipertimbangkan dengan matang untuk memulihkan lalu lintas udara secara bertahap guna persiapan operasional penuh bandara dalam periode mendatang," tambahnya, mengindikasikan transisi menuju normalisasi penuh.
Dalam kesempatan tersebut, Direktur Jenderal juga menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Kerajaan Arab Saudi. "Kerja sama dan dukungannya dalam memfasilitasi operasional maskapai Kuwait melalui bandara-bandara mereka selama periode ini," ujarnya, menyoroti peran penting Riyadh dalam menjaga konektivitas penerbangan Kuwait selama masa penutupan.
