Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump secara terang-terangan menyatakan niatnya untuk mengambil alih Kuba, sebuah pernyataan yang memicu respons keras dari pemimpin negara kepulauan tersebut. Menghadapi ancaman ini, Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel bersumpah akan melancarkan perlawanan tak terkalahkan. Internationalmedia.co.id – News melaporkan bahwa situasi ini muncul di tengah krisis energi parah yang melanda Kuba, diperparah oleh embargo minyak yang diberlakukan Washington.
Tekanan dari Washington terhadap pemerintah Kuba semakin meningkat. Trump, yang telah lama mengincar perubahan di negara komunis satu partai itu, pada Senin (16/3) dengan tegas menyatakan, "Kita akan melakukan sesuatu dengan Kuba segera." Ia bahkan menambahkan, "Saya percaya saya akan… mendapat kehormatan untuk mengambil alih Kuba," dan menyebut negara itu "sangat lemah saat ini." Pernyataan ini muncul saat Kuba dilanda pemadaman listrik total, yang secara langsung terkait dengan blokade minyak AS.

Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, seorang keturunan Kuba-Amerika dan kritikus vokal partai berkuasa di Kuba, menegaskan bahwa langkah-langkah reformasi yang diumumkan Kuba, seperti mengizinkan para eksil berinvestasi, belum cukup. "Apa yang mereka umumkan kemarin tidak cukup dramatis. Itu tidak akan memperbaikinya. Jadi mereka harus membuat beberapa keputusan besar," kata Rubio di Gedung Putih. Laporan dari The New York Times yang mengutip pejabat AS anonim menyebutkan pemerintahan Trump bahkan menyerukan pemecatan Diaz-Canel, meskipun Rubio membantah klaim tersebut di platform X, menyebutnya "palsu."
Namun, Presiden Miguel Diaz-Canel tidak gentar menghadapi ancaman Washington. Melalui pernyataan di platform X, ia menegaskan, "Menghadapi skenario terburuk, Kuba memiliki satu jaminan: setiap agresor eksternal akan menghadapi perlawanan yang tak tergoyahkan." Wakil Kepala Misi Kuba di Washington, Tanieris Dieguez, menambahkan bahwa Kuba terbuka untuk pembicaraan luas dengan AS, namun tidak akan pernah membahas perubahan sistem politiknya. "Tidak ada yang berkaitan dengan sistem politik kita… yang menjadi bagian dari negosiasi, dan tidak akan pernah menjadi bagian dari itu," tegas Dieguez, menekankan pentingnya penghormatan terhadap kedaulatan Kuba.
Kondisi ekonomi Kuba memang genting. Pemadaman listrik total pada Senin (16/3) menyoroti rapuhnya infrastruktur energi negara itu. Sistem pembangkit listrik yang sudah tua seringkali mengalami pemadaman hingga 20 jam sehari di beberapa wilayah. Situasi ini diperparah setelah Kuba kehilangan Venezuela sebagai sekutu utama dan pemasok minyak pada Januari lalu, menyusul operasi militer AS yang menggulingkan pemimpin sosialis Venezuela, Nicolas Maduro. Sejak 9 Januari, tidak ada impor minyak ke Kuba akibat blokade de facto AS, melumpuhkan sektor energi dan pariwisata yang vital.
Ambisi Trump untuk melihat pemerintahan Kuba tumbang sangat eksplisit. "Anda tahu, sepanjang hidup saya, saya telah mendengar tentang Amerika Serikat dan Kuba. Kapan Amerika Serikat akan melakukannya?" kata Trump. Ia melanjutkan dengan keyakinan bahwa ia bisa "melakukan apa pun yang saya inginkan dengannya, Anda ingin tahu yang sebenarnya." Pernyataan ini menggarisbawahi tekad Washington untuk mengakhiri kebuntuan yang telah berlangsung hampir tujuh dekade, meskipun dengan risiko konfrontasi langsung.

