Internationalmedia.co.id – News – Ibu kota Venezuela, Caracas, bergejolak pada Selasa (3/2) ketika ribuan warga tumpah ruah ke jalanan untuk menuntut pembebasan mantan pemimpin mereka, Nicolas Maduro. Aksi ini digelar tepat sebulan setelah Maduro digulingkan dalam operasi militer Washington yang disebut mematikan, kemudian ditangkap oleh otoritas Amerika Serikat dan diterbangkan ke New York untuk menghadapi tuduhan narkoba.
Dengan semangat membara, para demonstran meneriakkan "Venezuela membutuhkan Nicolas!" saat mereka bergerak di sepanjang jalanan Caracas. Unjuk rasa besar-besaran ini, yang diserukan oleh pemerintah Venezuela, melibatkan barisan massa sepanjang beberapa ratus meter, diiringi truk-truuk yang memutar musik keras, menciptakan suasana yang penuh gairah.

Banyak peserta aksi adalah pekerja sektor publik, yang membawa foto-foto Maduro dan istrinya, Cilia Flores, yang juga ditangkap dalam operasi militer AS bulan lalu. Mereka mengenakan pakaian berwarna merah, simbol gerakan "Chavista" yang berkuasa, dan mengibarkan bendera Venezuela, menunjukkan identitas dan kesetiaan mereka terhadap ideologi yang diwariskan dari pendahulu Maduro, Hugo Chavez.
Putra Maduro, Nicolas "Nicolasito" Maduro Guerra, yang juga anggota parlemen Venezuela, dengan tegas menyatakan sentimen anti-imperialis yang mendalam di antara para pengunjuk rasa. "Orang-orang ini bukan orang Amerika," ujarnya, menambahkan, "Kita telah mencapai kesadaran anti-imperialis yang mendalam."
Di tengah gejolak ini, Presiden sementara Venezuela, Delcy Rodriguez, berada dalam posisi yang sangat sulit. Ia berusaha menjaga dukungan dari Amerika Serikat, namun di sisi lain, ia juga harus mempertahankan kesetiaan para pengikut Maduro dalam pemerintahannya dan rakyat Venezuela secara keseluruhan, yang kini terpecah belah.
Jose Perdomo, seorang pegawai kota berusia 58 tahun yang ikut berunjuk rasa, mengungkapkan perasaannya yang campur aduk. "Kami merasa bingung, sedih, dan marah. Ada banyak emosi," katanya. Dengan nada penuh harap, ia menambahkan, "Cepat atau lambat, mereka harus membebaskan presiden kami."

