Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi melayangkan permohonan mendesak kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump, memohon bantuannya untuk menghentikan konflik yang kini telah memasuki bulan kedua di kawasan Timur Tengah. Internationalmedia.co.id – News mencatat, seruan ini disampaikan Sisi dalam sebuah pernyataan pers di Kairo, Mesir.
"Saya katakan kepada Presiden Trump: tidak seorang pun akan mampu menghentikan perang di wilayah kita, di Teluk… Tolong, bantu kami menghentikan perang, Anda mampu melakukannya," tegas Sisi dalam konferensi pers bersama Presiden Siprus Nikos Christodoulides. Ia melanjutkan, "Saya berbicara kepada Anda atas nama kemanusiaan dan atas nama semua orang yang mencintai perdamaian — dan Anda, Tuan Presiden, termasuk di antara mereka yang mencintai perdamaian," seperti dilansir AFP pada Selasa (31/3/2026).

Permintaan Sisi ini muncul pada Senin (30/3) waktu setempat, sesaat sebelum Trump mengeluarkan ancaman keras terhadap Iran. Mesir sendiri merupakan salah satu negara mayoritas Muslim yang menteri luar negerinya baru-baru ini berpartisipasi dalam pembicaraan di Pakistan, Minggu lalu, yang bertujuan mencari jalan menuju perdamaian.
Ancaman Trump itu, yang disampaikan pada Senin (30/3), secara spesifik menargetkan pembangkit listrik Iran dan Pulau Kharg. "Jika karena alasan apa pun kesepakatan tidak segera tercapai, yang mungkin akan terjadi, dan jika Selat Hormuz tidak segera ‘Dibuka untuk Bisnis’, kami akan mengakhiri ‘kunjungan’ kami yang menyenangkan di Iran dengan meledakkan dan menghancurkan sepenuhnya semua Pembangkit Listrik, Sumur Minyak, dan Pulau Kharg (dan mungkin semua pabrik desalinasi!)" tulis Trump dalam pernyataannya. Pulau Kharg sendiri merupakan infrastruktur energi paling vital bagi Iran, berperan sebagai pusat utama ekspor minyak mentah negara tersebut, dengan sekitar 90 persen ekspor minyak Iran bergantung pada fasilitas di sana.
Namun, di tengah retorika keras tersebut, Trump juga mengisyaratkan adanya "pembicaraan serius" yang sedang berlangsung dengan rezim Iran yang "baru dan lebih masuk akal." Ia bahkan menyatakan kepada media Bloomberg bahwa Iran ingin "menyelesaikan konflik" dan menyebut perang berjalan "sangat baik."
Di sisi lain, Iran pada Senin (30/3) membantah telah melakukan negosiasi langsung dengan AS. Teheran menyebut kontak baru-baru ini dengan Washington terbatas pada pesan-pesan yang disampaikan melalui perantara. Berbagai negara regional terus berupaya menengahi kesepakatan antara kedua pihak, dengan Menteri Luar Negeri Pakistan Ishaq Dar mengisyaratkan kesediaan Islamabad untuk menjadi tuan rumah pembicaraan AS dan Iran.

