Jakarta – Internationalmedia.co.id – News – Sebuah seruan mendesak dikeluarkan oleh Perdana Menteri Polandia, Donald Tusk, meminta seluruh warga negaranya untuk segera meninggalkan Iran. Pernyataan ini disampaikan pada Kamis (19/2) waktu setempat, menyusul sinyal kuat dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang kembali mengisyaratkan potensi tindakan militer terhadap Teheran.
Dalam konferensi pers yang digelar, Tusk menegaskan, "Setiap individu yang masih berada di Iran harus segera pergi, dan dalam kondisi apa pun, tidak seorang pun boleh merencanakan perjalanan ke negara tersebut." Ia menambahkan, situasi semakin genting: "Kemungkinan konflik yang memanas sangat nyata, dan dalam hitungan jam, puluhan jam, evakuasi mungkin bukan lagi opsi yang tersedia." Pernyataan ini dikutip dari laporan kantor berita AFP dan Al Arabiya.

Ini bukanlah kali pertama Warsawa mengeluarkan peringatan serupa; dalam beberapa bulan terakhir, pemerintah Polandia telah dua kali meminta warganya untuk meninggalkan Iran. Sementara itu, Amerika Serikat telah memperkuat kehadiran militernya di sekitar Iran, dengan mengerahkan kapal perang, jet tempur, dan pesawat pengisian bahan bakar. Penempatan kekuatan ini diinterpretasikan sebagai persiapan untuk potensi serangan berkelanjutan terhadap Iran, jika Presiden Trump memutuskan untuk melancarkan operasi militer.
Pada hari yang sama, Kamis (19/2), Presiden Trump secara tegas memberikan ultimatum kepada Iran, menetapkan batas waktu maksimal 15 hari untuk mencapai kesepakatan mengenai program nuklirnya. Ia memperingatkan bahwa konsekuensi serius akan menanti jika tidak ada keputusan yang dicapai setelah periode tersebut.
Berbicara kepada wartawan di Air Force One, Trump menyatakan, "Kita akan mencapai kesepakatan atau itu akan menjadi situasi yang sangat tidak menguntungkan bagi mereka." Menanggapi pertanyaan mengenai durasi ultimatum, ia menambahkan, "Saya kira itu akan menjadi waktu yang cukup, 10 hingga 15 hari, paling lama," seperti dilaporkan AFP.
Sebelumnya, Trump juga telah menyuarakan pandangannya tentang sulitnya mencapai kesepakatan substansial dengan Iran. Ia memperingatkan akan adanya "hal-hal buruk" jika kesepakatan gagal tercapai. "Terbukti selama bertahun-tahun tidak mudah untuk membuat kesepakatan yang berarti dengan Iran. Kita harus membuat kesepakatan yang berarti, jika tidak, hal-hal buruk akan terjadi," ujarnya dalam pertemuan perdana "Dewan Perdamaian" di Washington, AS.
Dalam kesempatan tersebut, Trump kembali menekankan bahwa Amerika Serikat mungkin terpaksa mengambil langkah-langkah lebih drastis jika tidak ada kesepakatan. "Anda akan mengetahuinya dalam 10 hari ke depan," pungkasnya.

