Internationalmedia.co.id – News – Sebuah insiden serius mengguncang stabilitas kawasan Teluk pada Jumat, 20 Maret, ketika kilang minyak Mina Al-Ahmadi di Kuwait dilalap api hebat. Insiden kebakaran ini dipicu oleh serangkaian serangan drone dan rudal yang terkoordinasi, dengan beberapa negara Teluk menuding Iran sebagai dalang di balik agresi tersebut. Peristiwa ini secara signifikan meningkatkan ketegangan di wilayah yang strategis dan kaya akan sumber daya energi.
Kantor Berita Kuwait (KUNA), mengutip keterangan resmi dari perusahaan minyak nasional, mengonfirmasi bahwa fasilitas vital tersebut menjadi sasaran "beberapa serangan drone musuh." Meskipun kobaran api cukup besar, laporan awal menyebutkan tidak ada korban jiwa yang jatuh dalam insiden ini. Tim pemadam kebakaran segera diterjunkan untuk mengendalikan api, sementara sejumlah unit operasional kilang terpaksa dihentikan sementara demi alasan keamanan.

Serangan ini diyakini merupakan respons balasan dari Iran menyusul agresi Israel terhadap ladang gas South Pars. Dalam beberapa hari terakhir, Teheran memang dilaporkan telah mengintensifkan operasi penyerangan terhadap infrastruktur energi di berbagai titik di Teluk, termasuk menargetkan kilang minyak dan pusat gas terbesar di dunia yang terletak di Qatar.
Gelombang agresi serupa juga dirasakan di negara-negara tetangga. Kementerian Dalam Negeri Bahrain pada hari yang sama mengumumkan bahwa pecahan peluru dari apa yang mereka sebut sebagai "agresi Iran" telah menyebabkan kebakaran di sebuah gudang. Beruntung, api berhasil dipadamkan dengan cepat dan tidak menimbulkan korban. Di Kuwait, pernyataan militer menegaskan bahwa sistem pertahanan udara mereka telah "menanggapi ancaman rudal dan drone musuh." Sementara itu, media pemerintah Uni Emirat Arab (UEA) turut melaporkan adanya "ancaman rudal dan drone yang terdeteksi berasal dari Iran."
Garda Revolusi Iran, melalui kantor berita Tasnim, bahkan secara terbuka mengklaim bertanggung jawab atas penargetan pasukan Amerika Serikat (AS) di pangkalan udara Al-Dhafra di UEA, serta beberapa lokasi di Israel, menggunakan kombinasi rudal dan drone. Menanggapi eskalasi ini, Kementerian Pertahanan Arab Saudi menyatakan bahwa dalam kurun waktu sekitar dua jam, pasukan mereka berhasil "mencegat dan menghancurkan" lebih dari selusin drone di wilayah timur negara itu, ditambah satu unit lagi di bagian utara. Situasi ini menggarisbawahi semakin memanasnya konflik di Timur Tengah.

