Internationalmedia.co.id – News Sebuah video yang merekam adu mulut antara petugas pengamanan dan seorang penumpang Kereta Rel Listrik (KRL) di Stasiun Angke, Jakarta Barat, baru-baru ini menyebar luas di berbagai platform media sosial. KAI Commuter Indonesia (KCI) pun segera memberikan klarifikasi mendalam mengenai insiden yang terjadi di stasiun tersebut, sebagaimana dihimpun oleh internationalmedia.co.id.
Peristiwa yang sempat memicu kegaduhan itu dilaporkan terjadi sekitar pukul 13.00 WIB. Menurut Leza Arlan, Manager Public Relations KAI Commuter, insiden bermula ketika petugas pengamanan yang sedang bertugas di area crossing peron 2-3 Stasiun Angke melihat seorang pengguna KRL duduk di tangga peron. Petugas kemudian menegur dan mengimbau penumpang tersebut untuk tidak duduk di area yang dapat mengganggu alur pergerakan penumpang lain yang akan naik ke Commuter Line.

Leza menjelaskan bahwa teguran dan imbauan tersebut sudah disampaikan sebanyak tiga kali kepada penumpang yang bersangkutan, namun tidak diindahkan. Situasi memanas ketika, usai jam dinasnya, petugas pengamanan tersebut kembali menghampiri penumpang itu. Hal ini dipicu oleh rasa tersinggung petugas atas ucapan bernada rasis dan ejekan yang dilontarkan kepadanya, jelas Leza dalam keterangan tertulis yang diterima internationalmedia.co.id.
Kegaduhan yang sempat terjadi berhasil dilerai oleh petugas lain yang sedang berdinas di lokasi. Selanjutnya, petugas pengamanan yang terlibat dalam insiden tersebut langsung menjalani pemeriksaan internal dan diberikan pembinaan agar tetap mengedepankan kesabaran dan sikap humanis dalam memberikan pelayanan. KAI Commuter menegaskan akan memberikan sanksi tegas jika terbukti adanya pelanggaran aturan kerja.
Menanggapi kejadian ini, KAI Commuter mengimbau seluruh pengguna jasa KRL untuk selalu mematuhi arahan dari petugas di stasiun. Arahan tersebut, menurut KCI, semata-mata bertujuan untuk menjaga kenyamanan dan keamanan seluruh pengguna. Selain itu, KAI Commuter berkomitmen untuk terus melakukan pembinaan rutin kepada seluruh frontliner mereka, dengan penekanan pada peningkatan sikap humanis dalam memberikan pelayanan.
