Serangan Rusia terhadap kapal perang Ukraina menimbulkan korban jiwa. Internationalmedia.co.id melaporkan bahwa insiden ini merupakan serangan langka selama konflik tiga tahun antara kedua negara. Juru bicara Angkatan Laut Ukraina, Dmytro Pletenchuk, mengonfirmasi tewasnya dua tentara Ukraina, sementara beberapa lainnya masih dinyatakan hilang. Informasi ini disampaikan Pletenchuk kepada AFP pada Jumat (29/8), sehari setelah Rusia mengklaim telah menenggelamkan kapal pengintai Simferopol di delta Sungai Danube menggunakan drone angkatan laut.
Keengganan Kyiv dan Moskow untuk mengungkapkan kerugian militer masing-masing selama ini membuat pengakuan Ukraina atas serangan tersebut menjadi peristiwa yang jarang terjadi. Pletenchuk menyatakan bahwa pencarian terhadap sejumlah tentara yang hilang masih berlangsung dan menolak untuk mengungkap detail lebih lanjut mengenai jenis serangan dan lokasi kejadian. Ia hanya menambahkan bahwa beberapa tentara lainnya mengalami luka-luka.

Sebelum invasi tahun 2022, Ukraina memiliki kekuatan maritim yang jauh lebih kecil dibandingkan Rusia. Namun, selama konflik, Ukraina telah memanfaatkan drone angkatan laut dengan dampak signifikan. Sebaliknya, penggunaan drone angkatan laut masih tergolong baru bagi Rusia. Kementerian Pertahanan Rusia bahkan merilis rekaman video yang diklaim menunjukkan serangan tersebut, menampilkan ledakan besar di atas air. Serangan-serangan drone Ukraina sebelumnya telah memaksa Rusia untuk memindahkan armadanya dari bagian barat Laut Hitam. Peristiwa ini menyoroti eskalasi konflik dan pertempuran teknologi maritim yang semakin intensif antara kedua negara.
