Washington DC – Mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump meluapkan amarahnya kepada seorang jurnalis wanita di Ruang Oval Gedung Putih, setelah pertanyaan sensitif mengenai kasus kejahatan seks Jeffrey Epstein dilontarkan. Insiden ini, seperti dilaporkan Internationalmedia.co.id – News, terjadi saat koresponden CNN, Kaitlan Collins, mengajukan pertanyaan yang memicu reaksi keras dari sang mantan presiden.
Peristiwa tersebut bermula ketika Trump tengah mengadakan acara yang ia gunakan untuk mempromosikan dirinya dan Partai Republik. Dalam sesi tanya jawab, Collins menyoroti kekecewaan para korban Epstein terhadap penyensoran informasi dalam dokumen kasus yang baru diungkap ke publik. "Banyak perempuan yang merupakan penyintas Epstein tidak senang dengan penyensoran sebagian informasi yang muncul—beberapa di antaranya adalah keterangan saksi—disensor seluruhnya. Apakah menurut Anda mereka seharusnya lebih transparan?" tanya Collins kepada Trump.

Trump, yang terlihat keberatan dengan arah pertanyaan tersebut, membalas bahwa ia justru mendengar laporan para korban mengeluh karena identitas mereka dan informasi lainnya tidak disensor dalam berkas kasus Epstein. Ia kemudian berusaha mengakhiri diskusi, menyatakan, "Saya pikir sudah saatnya negara ini beralih ke hal lainnya, sekarang setelah tidak ada yang terungkap tentang saya, selain itu adalah konspirasi terhadap saya, secara harfiah, oleh Epstein dan orang lain." Trump menambahkan, "Saya pikir sudah saatnya negara ini mungkin beralih ke hal lain."
Namun, Collins tidak menyerah. Ia kembali mendesak, "Tetapi apa yang akan Anda katakan kepada orang-orang yang merasa belum mendapatkan keadilan, Bapak Presiden?" Trump membalas dengan nada kesal, "Apa yang Anda katakan?" Setelah Collins mengulangi pertanyaannya, "Apa yang akan Anda katakan kepada para korban yang merasa belum mendapatkan keadilan?" Trump langsung melancarkan serangan pribadi. "Anda tahu, Anda reporter terburuk," katanya dengan nada menghina.
Menghadap para anggota parlemen Partai Republik yang berdiri di sekeliling mejanya, Trump melanjutkan, "Kalian tahu, dia wanita muda. Saya rasa saya belum pernah melihat Anda tersenyum. Saya sudah mengenal Anda selama 10 tahun. Saya rasa saya belum pernah melihat senyum di wajah Anda," kata Trump sambil menoleh kembali ke arah Collins.
Collins berusaha menyela, mengingatkan bahwa ia bertanya tentang "para korban pelecehan Jeffrey Epstein, Bapak Presiden." Mengabaikan interupsi tersebut, Trump terus mengomel. "Anda tahu mengapa Anda tidak tersenyum? Karena Anda mengetahui bahwa Anda tidak mengatakan kebenaran. Dan Anda adalah organisasi yang sangat tidak jujur, dan mereka seharusnya malu pada Anda," pungkasnya. Collins sempat bergumam bahwa pertanyaannya mengenai korban pelecehan seksual, menyiratkan bahwa ekspresi serius adalah hal yang pantas dalam konteks tersebut.
Insiden ini menyoroti ketegangan yang kerap terjadi antara mantan presiden dengan media, terutama ketika topik sensitif seperti kasus Jeffrey Epstein diangkat, yang secara tidak langsung pernah dikaitkan dengan Trump di masa lalu.

