Internationalmedia.co.id – News – Sebuah gejolak signifikan melanda Pentagon setelah Menteri Pertahanan Amerika Serikat (AS), Pete Hegseth, secara mengejutkan meminta Kepala Staf Angkatan Darat AS, Jenderal Randy George, untuk segera mengundurkan diri atau pensiun. Permintaan mendesak ini, yang dikonfirmasi oleh seorang pejabat senior Pentagon, memicu spekulasi luas mengenai dinamika kekuasaan di tubuh militer AS.
Kabar ini pertama kali dilaporkan oleh CBS News dan kemudian dikonfirmasi oleh juru bicara utama Pentagon, Sean Parnell, melalui unggahan di platform X pada Kamis (2/4/2026). Parnell menyatakan, "Jenderal Randy A. George akan pensiun dari jabatannya sebagai Kepala Staf Angkatan Darat ke-41 yang berlaku segera. Departemen Perang mengucapkan terima kasih atas pengabdian Jenderal George selama puluhan tahun kepada bangsa kita."

Langkah drastis Hegseth ini terjadi hanya sehari setelah Presiden Donald Trump menyampaikan pidato penting mengenai perang Iran. Dalam pidatonya, Trump mengisyaratkan intensifikasi serangan terhadap Iran, sebuah pernyataan yang kontras dengan sinyal sebelumnya yang menunjukkan kemungkinan AS mengakhiri konflik dalam beberapa minggu.
Sumber internal internationalmedia.co.id menyebutkan bahwa Jenderal George memiliki hubungan kerja yang erat dengan Sekretaris Angkatan Darat Dan Driscoll, seorang pejabat senior yang dikenal dekat dengan Gedung Putih. Hegseth dilaporkan memandang Driscoll sebagai ancaman, dan pencopotan George ini bukan yang pertama kali dilakukan Hegseth terhadap perwira militer senior selama masa jabatannya.
Jenderal George, seorang perwira infanteri karier lulusan Akademi Militer AS di West Point tahun 1988, telah menjabat sebagai Kepala Staf Angkatan Darat sejak September 2023. Sebelumnya, ia memimpin I Corps di Pangkalan Bersama Lewis-McChord dan pernah menjadi asisten militer senior untuk Menteri Pertahanan Lloyd Austin pada era pemerintahan Biden.
Di tengah kekosongan kepemimpinan, spekulasi mencuat mengenai sosok pengganti George. Jenderal Chris LaNeve, yang baru saja diangkat Hegseth sebagai Wakil Kepala Staf Angkatan Darat, menjadi kandidat terkuat. LaNeve, yang juga mantan asisten militer Hegseth, kemungkinan besar akan ditunjuk sebagai pelaksana tugas Kepala Staf Angkatan Darat.
Rekam jejak LaNeve cukup menarik. Lulusan ROTC Universitas Arizona tahun 1990, ia pernah menjabat sebagai panglima jenderal Angkatan Darat ke-8 di Korea Selatan. Sebelumnya, ia sempat memimpin Divisi Lintas Udara ke-82 di Fort Bragg, North Carolina, namun meninggalkan posisi tersebut dalam waktu kurang dari dua tahun untuk menjadi asisten khusus komandan Komando Pasukan Angkatan Darat AS, sebelum akhirnya bertugas di Korea Selatan.
Momen paling menonjol dalam karier LaNeve adalah ketika ia menarik perhatian Presiden Trump beberapa jam setelah pelantikan Trump. Melalui panggilan video dari Korea Selatan ke acara Commander in Chief’s Ball, LaNeve menyampaikan ucapan selamat. "Pak, atas nama pria dan wanita pemberani yang bertugas di bawah komando saya dan ribuan anggota layanan yang berdedikasi yang merupakan bagian dari tim gabungan di Korea, selamat atas kemenangan Anda sebagai Presiden Amerika Serikat ke-47," kata LaNeve.
Trump merespons dengan pujian, "Apakah pria ini terlihat seperti tokoh film (central casting) atau bagaimana?" Ia menambahkan, "Mereka tidak akan main-main dengan Anda. Itu bagus. Saya senang melihat itu. Tidak ada yang berani main-main dengan pria itu." Momen ini mengindikasikan hubungan baik antara LaNeve dan Trump, sebuah faktor yang mungkin relevan dalam penunjukannya sebagai pemimpin Angkatan Darat AS berikutnya.

