Internationalmedia.co.id – News – Teheran secara mengejutkan mengumumkan pengecualian tarif bagi kapal-kapal Rusia yang melintasi Selat Hormuz, sebuah jalur maritim vital yang menjadi urat nadi perdagangan minyak global. Kebijakan istimewa ini, yang juga berlaku untuk beberapa "negara sahabat" lainnya, menandai langkah signifikan dalam dinamika regional.
Kabar ini disampaikan langsung oleh Duta Besar Iran untuk Rusia, Kazem Jalali, dalam wawancaranya dengan kantor berita RIA Novosti baru-baru ini, seperti dikutip dari Anadolu Agency. Jalali menjelaskan bahwa Kementerian Luar Negeri Iran tengah aktif mengupayakan penerapan pengecualian ini secara berkelanjutan untuk mitra-mitra strategis, termasuk Federasi Rusia. "Saya tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan," ujar Jalali kepada RIA Novosti, "Namun, Kementerian Luar Negeri kami saat ini sedang berupaya menerapkan pengecualian ini untuk negara-negara sahabat, seperti Rusia."

Pengumuman Jalali ini kontras dengan pernyataan sebelumnya dari Wakil Ketua Parlemen Iran, Hamidreza Hajibabaei, yang mengonfirmasi bahwa pemerintah telah mulai memungut tarif dan menerima pendapatan awal dari kapal-kapal yang melintasi selat tersebut. "Pendapatan pertama yang diterima dari tol Selat Hormuz telah disetorkan ke rekening Bank Sentral," kata Hajibabaei, seperti dilaporkan oleh kantor berita Iran, Tasnim, dan juga AFP. Berita mengenai penerimaan pendapatan ini juga dikuatkan oleh berbagai media Iran lainnya, meski detail lebih lanjut belum diungkapkan.
Kebijakan pungutan tarif ini sendiri memiliki latar belakang yang cukup panjang. Sebelumnya, pada 8 April, Wall Street Journal (WSJ), sebuah media terkemuka AS, telah melaporkan peningkatan kontrol Iran atas Selat Hormuz, yang diakui sebagai koridor pelayaran minyak terpenting di dunia. Menurut laporan tersebut, Teheran telah menginstruksikan kapal-kapal untuk melakukan pembayaran tarif di muka kepada Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), dengan opsi pembayaran menggunakan mata uang kripto atau Yuan China.
Bahkan sebelum laporan WSJ, pada 19 Maret, kantor berita ISNA juga melaporkan bahwa Iran sedang mempertimbangkan undang-undang yang akan mewajibkan pembayaran tarif bagi semua kapal yang melintasi koridor maritim strategis tersebut.
Kondisi di Selat Hormuz sendiri telah memanas dan pelayaran mengalami gangguan serius sejak pecahnya konflik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari lalu. Kebijakan Teheran untuk membatasi pergerakan di selat strategis ini telah menciptakan gejolak signifikan di pasar energi global, memicu kekhawatiran akan potensi kerusakan ekonomi yang meluas dan berkepanjangan. Pengecualian tarif untuk Rusia ini kemungkinan besar merupakan bagian dari strategi Iran untuk memperkuat aliansi di tengah ketegangan geopolitik yang meningkat.
