Internationalmedia.co.id – Ketegangan di perbatasan Israel-Lebanon kembali memanas. Militer Israel mengklaim telah berhasil menewaskan seorang komandan senior Hizbullah dalam serangan yang menyasar sebuah bangunan di Beirut, Lebanon. Serangan ini terjadi di tengah upaya gencatan senjata yang rapuh.
Menurut pernyataan resmi militer Israel, serangan tersebut menargetkan dan berhasil melenyapkan Haitham Ali Tabatabai, yang disebut sebagai "kepala staf umum" Hizbullah. Klaim ini menambah daftar panjang eskalasi konflik antara kedua belah pihak.

Namun, informasi dari pihak Lebanon memberikan gambaran yang lebih suram. Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan bahwa serangan tersebut telah menyebabkan sedikitnya lima orang tewas dan 28 lainnya mengalami luka-luka. Jumlah korban sipil ini tentu memicu kekhawatiran akan dampak kemanusiaan dari konflik yang berkepanjangan.
Serangan di Beirut ini bukan insiden tunggal. Israel terus melancarkan operasi militer di wilayah Lebanon, bahkan setelah kesepakatan gencatan senjata yang bertujuan mengakhiri permusuhan yang telah berlangsung lebih dari setahun dengan Hizbullah, sekutu Hamas. Sebelumnya, pada Rabu (19/11), militer Israel juga menyerang dua kota di Lebanon selatan, dengan alasan menargetkan kelompok militan Hizbullah setelah memberikan peringatan kepada warga sipil.
Situasi ini semakin memperumit upaya perdamaian dan meningkatkan risiko eskalasi konflik yang lebih luas di kawasan tersebut. Gencatan senjata yang diharapkan dapat menjadi solusi jangka panjang kini terancam, dan masa depan Lebanon serta stabilitas regional menjadi semakin tidak pasti.

