Internationalmedia.co.id – News – Kepolisian Iran baru-baru ini mengeluarkan peringatan keras kepada warganya agar tidak turun ke jalanan untuk berunjuk rasa. Dalam situasi konflik yang memanas dengan Amerika Serikat dan Israel, pihak berwenang Iran menyatakan bahwa setiap demonstran yang mendukung "musuh" akan diperlakukan sebagai musuh negara, bukan sekadar pengunjuk rasa biasa.
Peringatan tegas ini disampaikan oleh Kepala Kepolisian Nasional Iran, Ahmad-Reza Radan, melalui siaran televisi pemerintah IRIB. Radan menegaskan bahwa jika ada individu atau kelompok yang bergerak sejalan dengan keinginan musuh, mereka tidak akan lagi dipandang sebagai demonstran. "Kami akan melihat mereka sebagai musuh," tegas Radan. "Dan kami akan melakukan kepada mereka, apa yang kami lakukan kepada musuh. Kami akan memperlakukan mereka dengan cara yang sama seperti kami memperlakukan musuh."

Radan juga menekankan kesiapan penuh pasukan keamanan Iran dalam menghadapi potensi gejolak internal. "Semua pasukan kami juga siap, dengan jari di pelatuk, siap untuk membela revolusi mereka, mendukung rakyat dan tanah air mereka," ujarnya, mengindikasikan tindakan tegas yang akan diambil terhadap setiap upaya protes. Ia menambahkan bahwa pasukan keamanan telah ditempatkan di jalanan, berpatroli siang dan malam, untuk memastikan ketertiban dan keamanan.
Peringatan ini muncul setelah Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu secara terbuka menyerukan warga Iran untuk turun ke jalanan dan menggulingkan rezim yang berkuasa. Seruan tersebut disampaikan di tengah eskalasi konflik besar-besaran yang telah berlangsung sejak 28 Februari. Rentetan serangan dari AS dan Israel telah menewaskan sejumlah tokoh penting dan pejabat tinggi Iran, termasuk pemimpin tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, yang kini telah digantikan oleh putranya, Mojtaba Khamenei.
Sebagai respons, Teheran sendiri telah melancarkan gelombang serangan rudal dan drone. Targetnya meliputi sasaran strategis di Israel serta negara-negara Teluk yang menjadi lokasi aset militer AS, menandai babak baru dalam ketegangan regional yang semakin memanas.

