Internationalmedia.co.id – Teheran mengecam keras agresi militer Israel ke wilayah Lebanon selatan. Pemerintah Iran menyebut serangan yang menyasar posisi kelompok Hizbullah itu sebagai tindakan "biadab" dan mendesak komunitas internasional untuk bertindak.
Kementerian Luar Negeri Iran dalam pernyataan resminya menyerukan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), negara-negara regional, dan seluruh komunitas internasional untuk "mengkonfrontasi hasutan perang" yang dilakukan Israel. Teheran juga menyampaikan belasungkawa atas jatuhnya korban sipil di Lebanon akibat serangan tersebut.

Militer Israel mengklaim serangan udara besar-besaran itu menargetkan sejumlah posisi Hizbullah dengan dalih kelompok tersebut berusaha membangun kembali kekuatan militernya. Israel menuduh Hizbullah mempersenjatai kembali pasukannya setelah menderita kerugian besar, termasuk kematian pemimpin mereka, Hassan Nasrallah, tahun lalu.
Serangan itu dilancarkan tak lama setelah militer Israel mengeluarkan perintah evakuasi bagi penduduk di beberapa desa di Lebanon selatan, termasuk Taybeh, Tayr Debba, Aita Al-Jabal, dan Zawtar al-Sharqiya. Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan setidaknya satu orang tewas akibat pengeboman tersebut.
Aksi militer ini terjadi setelah Israel dan Lebanon menandatangani perjanjian gencatan senjata pada November 2024, yang bertujuan mengakhiri konflik berkepanjangan antara Israel dan Hizbullah. Meskipun gencatan senjata berlaku, Israel berdalih memiliki hak untuk menyerang target Hizbullah yang dianggap sebagai ancaman.
Hizbullah sendiri menegaskan komitmennya terhadap gencatan senjata, namun juga menyatakan memiliki "hak yang sah" untuk melawan Israel. Kelompok ini menolak melucuti senjata sepenuhnya, tetapi tidak menghalangi upaya militer Lebanon di wilayah selatan. Hizbullah juga membantah telah menembaki Israel sejak gencatan senjata diberlakukan tahun lalu, seperti yang dilansir Internationalmedia.co.id.
