Internationalmedia.co.id – News – Teheran baru-baru ini mengumumkan kebijakan penting terkait Selat Hormuz, jalur perairan krusial bagi distribusi energi global. Iran menegaskan bahwa kapal-kapal yang tidak memiliki niat bermusuhan diizinkan melewati selat strategis tersebut, namun dengan syarat mutlak: tidak terlibat dalam aksi agresif yang menargetkan Teheran.
Klarifikasi ini datang dari perwakilan diplomatik permanen Iran di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), yang diunggah melalui platform media sosial X pada Selasa lalu. Seperti dilansir Anadolu Agency, misi diplomatik tersebut menjelaskan, "Kapal-kapal non-musuh, termasuk yang dimiliki atau terkait dengan negara lain, dapat—dengan syarat tidak berpartisipasi atau mendukung tindakan agresi terhadap Iran dan mematuhi sepenuhnya peraturan keselamatan dan keamanan yang ditetapkan—memperoleh manfaat dari perlintasan aman melalui Selat Hormuz dalam koordinasi dengan otoritas Iran yang berwenang."

Pengumuman ini muncul di tengah eskalasi ketegangan yang tak kunjung mereda di kawasan Timur Tengah. Situasi memanas menyusul serangan gabungan berskala besar yang dilancarkan oleh Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran pada tanggal 28 Februari.
Serangkaian serangan AS-Israel di berbagai penjuru Iran telah mengakibatkan kematian sedikitnya 1.340 jiwa, termasuk figur sentral negara itu, Ayatollah Ali Khamenei. Sebagai respons, Teheran melancarkan serangan balasan berupa gelombang rudal dan drone yang menyasar target di Israel serta negara-negara Teluk yang menaungi fasilitas militer AS.
Serangan balasan Iran tersebut menewaskan setidaknya 13 prajurit AS yang ditempatkan di negara-negara Teluk, melukai 290 lainnya, di mana 10 di antaranya mengalami cedera serius.
Selat Hormuz, arteri vital bagi pasokan energi global, tak luput dari imbas konflik yang berkepanjangan ini. Sebelum pecahnya konflik, diperkirakan 20 juta barel minyak global melintasi jalur maritim krusial ini setiap hari.
Namun, sejak awal Maret, aktivitas pelayaran di Selat Hormuz praktis dibatasi. Kondisi ini memicu disrupsi global yang signifikan, mengakibatkan kenaikan biaya pengiriman dan lonjakan harga minyak dunia. Pernyataan Iran ini diharapkan dapat memberikan sedikit kejelasan di tengah ketidakpastian yang melanda jalur perdagangan penting tersebut.

