Internationalmedia.co.id – News – Situasi keamanan di Iran memanas menyusul gelombang protes yang meluas di berbagai kota. Garda Revolusi Iran (IRGC) dengan tegas menyatakan bahwa menjaga stabilitas dan keamanan negara adalah "garis merah" yang tak bisa ditawar, seraya berjanji untuk melindungi properti publik. Peringatan keras ini datang di tengah meningkatnya ketegangan, termasuk intervensi pernyataan dari pejabat tinggi Amerika Serikat.
Dalam pernyataan yang disiarkan oleh televisi pemerintah, IRGC menegaskan komitmen mereka untuk melindungi pencapaian Revolusi Islam 1979 dan menjaga keamanan nasional sebagai prioritas utama. Mereka menambahkan bahwa eskalasi situasi saat ini tidak dapat ditoleransi. Lebih lanjut, IRGC menuduh kelompok-kelompok "teroris" sengaja menargetkan pangkalan militer dan lembaga penegak hukum selama dua malam terakhir, yang mengakibatkan tewasnya sejumlah warga sipil dan personel keamanan. Secara terpisah, militer Iran, yang juga berada di bawah kepemimpinan Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei, turut menyatakan kesiapan mereka untuk "melindungi dan menjaga kepentingan nasional, infrastruktur strategis, serta properti publik."

Gelombang demonstrasi yang kini telah berlangsung selama dua minggu terakhir telah menyebar ke berbagai penjuru Iran. Awalnya dipicu oleh lonjakan inflasi yang membebani ekonomi rakyat, aksi protes ini dengan cepat bermetamorfosis menjadi tuntutan politik yang lebih luas, menyerukan diakhirinya pemerintahan ulama. Kerusuhan dilaporkan terus berlanjut sepanjang malam, dengan media pemerintah Iran melaporkan insiden pembakaran gedung pemerintah kota di Karaj, sebelah barat ibu kota Teheran, yang mereka tuding dilakukan oleh "para perusuh." Stasiun televisi nasional juga menayangkan prosesi pemakaman anggota pasukan keamanan yang diklaim tewas dalam insiden protes di kota-kota seperti Shiraz, Qom, dan Hamedan.
Di tengah gejolak ini, Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Jumat (9/1) mengeluarkan peringatan baru kepada para pemimpin Iran. Sehari kemudian, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio turut menegaskan dukungan Amerika Serikat terhadap "rakyat Iran yang berani." Namun, otoritas Iran menanggapi dengan menuduh Amerika Serikat dan Israel sebagai dalang di balik "kerusuhan" yang terjadi, mengklaim kedua negara tersebut memicu instabilitas di dalam negeri.
Menurut laporan dari Al Arabiya dan Reuters pada Sabtu (10/1), seorang saksi mata di Iran barat, yang dihubungi via telepon dan memilih untuk tidak disebutkan namanya demi keamanan, mengungkapkan bahwa Garda Revolusi telah dikerahkan dan melepaskan tembakan di wilayah tempat ia berada. Sementara itu, kelompok-kelompok hak asasi manusia telah mendokumentasikan puluhan kematian di kalangan demonstran, menambah daftar korban jiwa dalam gelombang protes yang terus memanas ini.

