"Dia (Putin) diundang, dia telah menerimanya," ujar Trump kepada wartawan di sela-sela Forum Ekonomi Dunia (WEF) di Davos, Swiss. Trump juga menambahkan bahwa banyak pemimpin dunia lain yang telah menerima undangan tersebut, meskipun identitas mereka belum diungkapkan.
Menanggapi kritik atas upayanya merangkul tokoh-tokoh non-demokratis dalam Dewan Perdamaian, Trump berdalih bahwa beberapa dari mereka memang "kontroversial", namun ia menekankan pentingnya inklusivitas.

Di Moskow, Putin memberikan tanggapan yang lebih hati-hati. Dalam rapat kabinet yang disiarkan televisi pemerintah, Putin menyatakan telah memerintahkan Kementerian Luar Negeri untuk mempelajari proposal Trump dan berkonsultasi dengan mitra-mitra strategis Rusia. "Hanya setelah itu, kita dapat menanggapi undangan tersebut," tegas Putin.
Putin bahkan menawarkan opsi pendanaan untuk keanggotaan Rusia di Dewan Perdamaian, yaitu melalui aset-aset Rusia yang dibekukan di bawah pemerintahan AS sebelumnya. Ia juga menyarankan agar aset tersebut dapat digunakan untuk membangun kembali wilayah yang rusak akibat konflik, khususnya setelah tercapainya perjanjian damai antara Rusia dan Ukraina.
Dewan Perdamaian yang digagas Trump awalnya bertujuan untuk mengawasi pembangunan kembali Jalur Gaza pasca-perang. Namun, dalam perkembangannya, dewan ini memiliki peran yang lebih luas dalam mengakhiri konflik global. Draf piagam pembentukan dewan ini menyerukan kontribusi sebesar US$ 1 miliar dari setiap anggota untuk keanggotaan permanen.
Inisiatif Trump ini menuai beragam reaksi. Beberapa negara, seperti Prancis dan Norwegia, menolak untuk bergabung, sementara negara-negara lain, termasuk Indonesia, Arab Saudi, Mesir, Uni Emirat Arab, Yordania, Qatar, Pakistan, dan Turki, telah menyatakan minatnya. Israel juga sebelumnya telah menyatakan persetujuannya. Kalangan diplomat asing menilai bahwa Dewan Perdamaian ini berpotensi membahayakan kinerja Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Putin Gabung Dewan Perdamaian Bentukan Trump? Fakta Sebenarnya Bikin Tercengang!
