Ketegangan serius menyelimuti hubungan antara Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) menyusul insiden pengeboman yang dilakukan koalisi pimpinan Saudi di pelabuhan Mukalla, Yaman. Riyadh menuding Abu Dhabi secara diam-diam mendukung kelompok separatis di Yaman dengan pasokan senjata. Internationalmedia.co.id – News melaporkan bahwa insiden ini memicu peringatan keras dari Saudi, yang mengindikasikan perpecahan mendalam di antara dua sekutu regional utama tersebut pada Rabu (31/12/2025).
Koalisi pimpinan Arab Saudi mengonfirmasi serangan udara terhadap kota pelabuhan Mukalla setelah dua kapal yang diduga membawa muatan senjata tiba dari Pelabuhan Fujairah, UEA. Juru bicara Pasukan Koalisi, Brigjen Turki al-Maliki, menyatakan bahwa awak kapal tersebut kedapatan menonaktifkan sistem pelacakan mereka dan menurunkan sejumlah besar persenjataan serta kendaraan tempur di pelabuhan Mukalla.

Persenjataan dan kendaraan tempur itu diduga kuat ditujukan untuk mendukung pejuang dari Dewan Transisi Selatan (STC), sebuah kelompok separatis yang beroperasi di wilayah Hadramaut dan al-Mahrah, Yaman. STC, yang dikenal berupaya menghidupkan kembali negara Yaman Selatan yang pernah merdeka, belakangan ini telah menguasai sebagian besar wilayah, mengusir pasukan pemerintah dan sekutunya.
Kantor berita Saudi Press Agency (SPA) melaporkan bahwa operasi militer terbatas ini dilancarkan "mengingat bahaya dan eskalasi yang ditimbulkan oleh senjata-senjata ini." Al-Maliki menegaskan bahwa pengiriman senjata tersebut merupakan "pelanggaran nyata terhadap langkah-langkah deeskalasi dan upaya mencapai solusi damai, serta pelanggaran terhadap Resolusi Dewan Keamanan PBB No. 2216 tahun 2015." Serangan ini juga dilakukan atas permintaan Ketua Dewan Kepemimpinan Presiden Yaman kepada pasukan koalisi untuk mengambil tindakan militer demi melindungi warga sipil.
Menanggapi situasi ini, Dewan Kepresidenan Yaman yang didukung Saudi segera mengumumkan keadaan darurat nasional. Mereka secara resmi mengakhiri kerja sama keamanan dengan Abu Dhabi dan memerintahkan seluruh pasukan UEA untuk meninggalkan wilayah Yaman dalam waktu 24 jam. Larangan selama 72 jam juga diberlakukan untuk seluruh penyeberangan perbatasan, serta akses ke bandara dan pelabuhan laut di wilayah yang mereka kuasai, kecuali dengan izin langsung dari Arab Saudi. Langkah-langkah ini menandai putusnya hubungan keamanan antara pemerintah Yaman yang diakui secara internasional dengan Abu Dhabi, sekaligus memperdalam perpecahan di antara kekuatan anti-Houthi.
Uni Emirat Arab, melalui Kementerian Pertahanannya, menyatakan akan menarik pasukan yang tersisa dari Yaman secara "sukarela." Abu Dhabi membantah keras tuduhan Saudi, menegaskan bahwa mereka tidak berada di balik serangan separatis tersebut. Pihak UEA mengklaim bahwa pengiriman ke Mukalla hanya berisi kendaraan yang ditujukan untuk pasukannya sendiri, bukan senjata untuk pihak Yaman. Pernyataan UEA mengutuk klaim yang dibuat mengenai pemberian tekanan atau arahan kepada pihak Yaman mana pun untuk melakukan operasi militer, dan menegaskan bahwa tuduhan Saudi itu tidak benar.
Insiden ini menandai keretakan signifikan antara Riyadh dan Abu Dhabi, dua sekutu lama yang selama bertahun-tahun bersatu dalam koalisi melawan pemberontak Houthi yang didukung Iran. Meskipun memiliki hubungan erat dan sama-sama anggota OPEC, kedua negara ini belakangan bersaing dalam pengaruh politik dan ekonomi di kawasan Timur Tengah dan Laut Merah.
Di tengah ketegangan diplomatik ini, STC tetap bersikukuh pada posisinya. Mereka menyatakan "tidak ada pemikiran untuk mundur" dari wilayah yang baru saja mereka rebut, menegaskan bahwa "tidak masuk akal jika pemilik tanah diminta untuk meninggalkan tanahnya sendiri."
Meskipun demikian, baik UEA maupun Arab Saudi menyatakan kesediaan untuk terlibat dalam dialog. Seorang sumber yang dekat dengan koalisi militer Saudi mengatakan kepada AFP bahwa "diplomasi masih menjadi pilihan untuk menghentikan eskalasi lebih lanjut." Namun, fondasi aliansi mereka di Yaman kini tampak goyah, dengan implikasi yang luas bagi stabilitas regional.
