Internationalmedia.co.id – Hamas, kelompok yang menguasai Jalur Gaza, dikabarkan mengajukan sejumlah perubahan krusial terhadap rencana perdamaian yang diusulkan oleh Presiden AS Donald Trump. Salah satu poin yang menjadi ganjalan utama adalah klausul mengenai perlucutan senjata.
Sumber dari internal Hamas mengungkapkan bahwa perundingan intensif tengah berlangsung di Doha, Qatar, melibatkan pejabat Turki, Mesir, dan Qatar. Hamas diperkirakan akan memberikan respons resmi terhadap usulan Trump dalam waktu dekat, namun perbedaan pendapat internal kelompok tersebut menjadi tantangan tersendiri.

Menurut sumber tersebut, Hamas bersikeras untuk mengubah klausul perlucutan senjata dan menolak pengusiran kader-kadernya. Selain itu, mereka juga menuntut jaminan internasional atas penarikan penuh pasukan Israel dari Jalur Gaza serta jaminan keamanan, baik di dalam maupun di luar wilayah tersebut.
Perpecahan internal Hamas terkait respons terhadap rencana perdamaian Trump semakin memperumit situasi. Satu kubu mendukung persetujuan tanpa syarat demi tercapainya gencatan senjata yang dijamin oleh Trump, dengan syarat mediator menjamin implementasi rencana tersebut oleh Israel. Sementara kubu lainnya meragukan klausul-klausul penting dalam rencana tersebut, terutama terkait perlucutan senjata dan pemindahan warga Palestina dari Gaza.
"Mereka mendukung perjanjian bersyarat dengan klarifikasi yang mempertimbangkan tuntutan Hamas dan faksi-faksi perlawanan, agar pendudukan atas Jalur Gaza tidak dilegitimasi, sementara perlawanan dikriminalisasi," jelas sumber tersebut.
Perkembangan ini menimbulkan pertanyaan besar mengenai prospek perdamaian di Gaza. Akankah Trump bersedia mengakomodasi tuntutan Hamas, ataukah rencana perdamaiannya akan menemui jalan buntu? Kita tunggu saja perkembangan selanjutnya.
