Kasus dugaan penistaan agama yang melibatkan tantangan hafalan Al-Qur’an dengan imbalan minuman keras (miras) di festival musik The Sounds Project, Ancol, Jakarta Utara, terus didalami pihak kepolisian. Internationalmedia.co.id – News melaporkan, aparat kini fokus mengumpulkan berbagai barang bukti guna mengungkap tuntas insiden yang memicu kegaduhan publik ini.
Kasi Humas Polres Metro Jakarta Utara, Iptu Maryati Jonggi Siregar, menyatakan bahwa tim penyidik sedang intensif mengumpulkan dan meneliti rekaman video yang telah viral di berbagai platform media sosial. "Kami masih mengumpulkan sejumlah barang bukti dari rekaman video yang beredar viral tersebut," ujar Iptu Maryati, seperti dikutip dari Antara.

Selain itu, Iptu Maryati juga mengonfirmasi adanya laporan resmi dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) terkait insiden ini. Laporan tersebut, menurut Bendahara MUI Jakarta Utara KH Ali Fahmi, diajukan oleh MUI Kecamatan Pademangan ke Mapolres Metro Jakarta Utara. "Kasus saat ini masih dalam tahap penyelidikan mendalam, kami terus mengklarifikasi pihak-pihak yang terlibat dan berkaitan dengan acara tersebut," tambahnya, menegaskan komitmen polisi untuk menuntaskan kasus ini.
Insiden yang memicu kemarahan publik ini bermula dari sebuah video amatir yang tersebar luas di Instagram. Rekaman tersebut memperlihatkan adegan di salah satu booth minuman beralkohol merek "New Port" pada festival The Sounds Project, Minggu (9/10). Di sana, pengunjung ditantang untuk menghafal Surah Ad-Dhuha. Ironisnya, hadiah yang dijanjikan bagi mereka yang berhasil adalah sebotol minuman beralkohol. Aksi tak pantas ini, yang terekam jelas, sontak menuai kecaman keras dari berbagai lapisan masyarakat.
Menanggapi gelombang protes, pihak penyelenggara The Sounds Project segera mengeluarkan pernyataan resmi. Melalui akun Instagram mereka, penyelenggara menyatakan kemarahan dan kekecewaan mendalam, serta mengecam keras tindakan tersebut. "Kami tidak pernah dan tidak akan pernah membenarkan perilaku yang menjadikan agama sebagai bahan tantangan atau promosi produk dalam bentuk apa pun," tegas The Sounds Project. Mereka mengklaim insiden itu terjadi di luar arahan dan persetujuan manajemen. Sebagai langkah awal, pihak penyelenggara telah menegur sponsor terkait dan menuntut penyelesaian kasus ini secara tuntas. The Sounds Project juga berjanji akan mengawal proses hukum, mengidentifikasi individu yang terlibat langsung, serta melakukan evaluasi menyeluruh demi mencegah terulangnya kejadian serupa.
Dari pihak sponsor, Direktur Newport, Handoko Sasongko, turut menyampaikan permohonan maaf yang tulus. Dalam keterangan resminya, Handoko menegaskan bahwa aktivitas kontroversial tersebut sama sekali bukan bagian dari program, konsep promosi, maupun arahan resmi dari Newport. "Newport menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh umat muslim, tokoh agama, dan seluruh masyarakat Indonesia atas kejadian yang menimbulkan ketidaknyamanan, rasa terluka, dan kegaduhan yang terjadi," ujar Handoko, mengacu pada video yang beredar dari booth mereka pada Minggu (9/10).
Ia menjelaskan, insiden itu murni muncul secara spontan dari pengunjung yang berada di lokasi. Handoko juga mengakui adanya kelemahan fatal dalam pengawasan di lapangan. Pihaknya sangat menyesalkan bahwa situasi tersebut tidak ditangani secara sigap saat kejadian berlangsung. "Kami menyesal adanya kelemahan dalam pengawasan terhadap pengunjung yang bisa mengambil alih mikrofon dari MC di lapangan, sehingga tindakan yang tidak sesuai dengan nilai-nilai agama, keyakinan, budaya, serta adat istiadat yang dijunjung oleh masyarakat dapat terjadi," paparnya. Newport menegaskan komitmennya untuk selalu menghormati nilai-nilai agama dan sensitivitas masyarakat Indonesia dalam setiap kegiatan dan interaksinya.
