Internationalmedia.co.id melaporkan kecaman keras Menteri Luar Negeri (Menlu) Jerman, Johann Wadephul, terhadap sikap China yang dinilai semakin agresif. Wadephul mengecam ancaman Beijing untuk mengubah sepihak perbatasan di kawasan Asia-Pasifik, khususnya di Selat Taiwan, Laut China Timur, dan Laut China Selatan. Pernyataan tersebut disampaikan usai pertemuannya dengan Menlu Jepang, Takeshi Iwaya, di Jepang.
Menurut Wadephul, ancaman China untuk mengubah status quo dan menggeser perbatasan demi keuntungannya sendiri merupakan tindakan yang berbahaya. Ia memperingatkan dampak serius bagi keamanan global dan ekonomi dunia jika eskalasi terus terjadi di kawasan perdagangan internasional yang sensitif tersebut. Sikap tegas ini juga disampaikan Wadephul dalam pernyataan tertulis sebelum kunjungannya ke Jepang dan Indonesia. Ia menyebut China semakin menegaskan supremasi regionalnya, sekaligus mempertanyakan prinsip-prinsip hukum internasional.

Lebih lanjut, Wadephul turut mengkritik dukungan China terhadap Rusia dalam konflik Ukraina. Ia menyebut China sebagai pemasok utama barang-barang dwiguna bagi Rusia dan pembeli utama minyak dan gas Rusia. Tanpa dukungan China, perang di Ukraina menurutnya tak akan mungkin terjadi. Menjelang pertemuan puncak di Washington yang melibatkan Presiden AS Donald Trump, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky, dan para pemimpin Eropa, Wadephul menekankan pentingnya jaminan keamanan bagi Ukraina untuk mencapai perdamaian yang adil dan berkelanjutan. Ia juga mendesak agar tekanan terhadap Rusia ditingkatkan.

