Internationalmedia.co.id melaporkan klaim Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengenai gencatan senjata antara Iran dan Israel telah memicu kontroversi. Trump mengumumkan di platform Truth Social bahwa kedua negara telah sepakat untuk gencatan senjata selama 24 jam, dimulai setelah masing-masing menyelesaikan "misi terakhir mereka". Ia bahkan menyatakan selamat kepada kedua negara atas keberanian dan kecerdasan mereka mengakhiri konflik yang disebutnya "PERANG 12 HARI".
Trump mengklaim telah menengahi kesepakatan ini melalui komunikasi telepon dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan pejabat Iran. Seorang pejabat senior Gedung Putih yang tak disebutkan namanya membenarkan adanya komunikasi dengan pihak Iran, menyebut Israel bersedia gencatan senjata asalkan Iran tidak melancarkan serangan baru. Wakil Presiden AS, Menteri Luar Negeri AS, dan utusan khusus AS juga dikabarkan terlibat dalam upaya diplomasi ini.

Namun, klaim Trump langsung dibantah oleh Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi. Melalui platform X, Araghchi menegaskan bahwa hingga saat itu belum ada kesepakatan gencatan senjata resmi. Ia menjelaskan bahwa jika Israel menghentikan serangan sebelum pukul 4 pagi waktu Teheran, Iran tidak berniat melanjutkan serangan balasan. Namun, Araghchi juga menyebutkan operasi militer Iran berlanjut hingga batas waktu tersebut.
Sementara itu, pemerintah Israel menyatakan telah menyetujui "gencatan senjata bilateral" dan menganggap Operasi Rising Lion sebagai kesuksesan luar biasa. Mereka mengklaim telah menghilangkan ancaman eksistensial ganda dari Iran, baik di bidang nuklir maupun rudal balistik.
Ironisnya, dua rudal Iran diluncurkan Selasa pagi, memicu sirene peringatan serangan udara di Israel utara. Militer Israel menyatakan rudal tersebut berhasil dicegat. Menhan Israel, Katz, pun memerintahkan balasan tegas atas pelanggaran gencatan senjata tersebut. Pernyataan yang saling bertolak belakang ini menimbulkan pertanyaan besar tentang status sebenarnya dari gencatan senjata yang diklaim Trump. Situasi di lapangan masih tegang dan perkembangan selanjutnya perlu dipantau dengan cermat.
