Internationalmedia.co.id – News – Ketegangan di Timur Tengah kembali memanas setelah militer Israel dilaporkan melancarkan operasi penghancuran skala besar di Lebanon bagian selatan pada Jumat (17/4) waktu setempat. Aksi ini terjadi hanya beberapa jam setelah gencatan senjata antara Tel Aviv dan Beirut secara resmi diberlakukan, memicu pertanyaan serius mengenai komitmen terhadap kesepakatan damai yang baru disepakati.
Menurut laporan dari National News Agency (NNA) Lebanon, yang juga dikutip oleh Anadolu Agency, pasukan Israel melakukan "penghancuran masif" di kota Khiam, sebuah wilayah strategis di distrik Marjayoun, Lebanon selatan. Rentetan ledakan dahsyat dilaporkan terdengar di Khiam, bahkan beberapa jam sebelum gencatan senjata resmi berlaku, mengindikasikan aktivitas militer intensif yang terus berlanjut.

Gencatan senjata, yang difasilitasi dan diumumkan oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump, seharusnya mulai berlaku pada Kamis (16/4) tengah malam dan dijadwalkan berlangsung selama sepuluh hari ke depan. Namun, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sebelumnya telah menegaskan bahwa pasukannya akan tetap mempertahankan posisi mereka di wilayah selatan Lebanon, sebuah pernyataan yang kini semakin relevan mengingat insiden penghancuran ini.
Militer Lebanon, melalui pernyataan yang juga disiarkan oleh NNA, secara resmi mencatat serangkaian pelanggaran serius yang dilakukan oleh pasukan Israel terhadap kesepakatan gencatan senjata. Pelanggaran ini, menurut militer Lebanon, mencakup penembakan sporadis yang menargetkan berbagai kota dan desa di wilayah selatan negara itu, menambah daftar panjang insiden yang merusak upaya perdamaian.
Menyikapi situasi yang tidak stabil ini, Komando Militer Lebanon mengeluarkan imbauan mendesak kepada warga yang mengungsi agar menunda kepulangan mereka ke rumah di wilayah selatan. "Komando militer menyerukan kepada warga untuk menunggu sebelum kembali ke kota dan desa di wilayah selatan, mengingat sejumlah pelanggaran terhadap kesepakatan," demikian bunyi pernyataan tersebut, menegaskan bahwa risiko keamanan masih sangat tinggi. Warga juga diminta untuk mematuhi arahan unit militer di lapangan dan menjauhi "area-area berbahaya."
Lebanon sendiri telah terseret dalam pusaran konflik Timur Tengah sejak 2 Maret lalu, ketika kelompok Hizbullah, yang berbasis di Lebanon dan didukung Iran, melancarkan serangan terhadap wilayah Israel. Sejak saat itu, serangkaian serangan udara balasan dari Israel telah menewaskan lebih dari 2.000 jiwa dan menyebabkan lebih dari satu juta warga Lebanon mengungsi. Selain serangan udara, Tel Aviv juga diketahui telah mengerahkan pasukan daratnya ke wilayah selatan Lebanon, semakin memperparah krisis kemanusiaan dan keamanan di kawasan tersebut.

